Cerpen

Untuk Menangkap Serigala, Tidak Ada Salahnya Meminta Tolong Kepada Singa

Dafa Alhafidz
Latest posts by Dafa Alhafidz (see all)
Ilustrasi: Nyarita.com

Pagi itu, selepas hujan yang mengguyur halaman pesantren membuat para santri muyung di asrama masing-masing yang dipenuhi pakaian bergelantung dan bau khas kamar. Walakin, ada juga santri sedang meringkuk badan seperti bayi dalam kandungan emak. Alih-alih tidur sembari menuliskan coretan di kertas yang kemudian menjadi penutup wajah, “naumul ‘aalim afdlolu min ‘ibadatil jaahil”.

Gus Din yang dipercaya sebagai Rais Am tengah meliput lembaran-lembaran kitab kuning karya ulama salafussalih. Sebagai bahan rujukan dan menambah ilmu daripada membiarkan waktu kosong terbuang sia-sia. Sesaat sruput kopi yang menjadi teman muthola’ah Gus Din dikagetkan oleh Munkasyif salah satu santri yang tengah menempuh kelas SP itu.

“Assalamulaikum,” diiringi suara ketukan pintu sebanyak tiga kali, biar lebih nyunnah.

“Waalaikumsalam,” sembari membuka pintu untuk keluar.

“Nggeh gus, hatur hapunten mengganggu waktunya. Iki loh gus…” sembari nafas tergesa gesa.

“Ono opo sampeyan, sini masuk dulu diruanganku. Biar lebih tenang.”

“Nggeh, Gus”

Keduanya pun masuk kedalam dan melanjutkan diskusi yang diselang oleh nafas kencang seperti suara banteng tengah kelelahan itu.

“Ono opo syif, sampeyan iki, sekarang kan waktunya istirahat santri. Liat temen-temen sampeyan itu sedang pulas istirahat. Sampeyan malah kayak orang dikejar rentenir aja, ono opo?”

“Iki loh Gus, aku tadi mau istirahat. Walakin, cacing yang ada diperut menggerutu iki. Langsung saja aku coba ambil uang di lemari dengan tujuan mau beli mie di kantin. Tetapi, pas buka lemari dan meraba kedalamnya rupanya kanjut kundang yang biasa aku gunakan untuk menyimpan uang malah gaaada. Aku coba mencari dan mengingat tapi ingatnya disimpen di lemari ini.”

“Coba ingat kembali, barangkali kamu lupa.”

“Nggeh gus, tapi aku malah inget ucapan sampeyan yang ngasi sambutan acara persatuan santri itu. Bahwa manusia itu tempatnya salah dan lupa. Jadinya aku mau minta saran saja kesini. Kira kira baiknya bagaimana gus.”

“Gini aja, kamu kehilangan ini baru pertama kali atau memang sudah berkelanjutan?”

“Pertama kali gus.”

“Yasudah, kamu ikhlasin saja. Niatkan sodaqoh sirr. Kalau memang kasus ini berlanjut kembali. Aku turun tangan.”

“Hmm, yasudah gus. Terimakasih waktunya. Kalau begitu, aku izin masuk ke asrama dulu ya.” sembari beranjak pergi.

“Iya, eh… eh… sebentar sebentar. Ini aku ada nasi kotak belum dimakan, cukup buat ganjal perutmu. Ambil saja.”

“Ttttt tapi gus.”

“Mau atau tidak ini?”

“Hmm ya sudah, terima kasih banyak Gus. Aku pamit ya. Mohon maaf mengganggu waktunya. Assalamu’alaikum.”

“Iyaa, Waalaikumsalam.”

Pesantren yang dikenal dengan tempat rehabilitasi akhlak itu, memiliki santri yang mayoritas pensiunan kriminal. Keramaian itu, mengakibatkan orang orang pensiunan kriminal merasa mereka adalah orang berpengalaman dan wajar untuk dihargai. Sehingga, mereka hidup di pesantren secara berkelompok. Dan kelompok kelas VVIP mungkin sebutannya, adalah kelompoknya mas Yos.

Mas Yos dikenal sebagai orang yang sangar di luar, bahkan kriminal paling ekstrem adalah mencuri celana dalam wanita dan ketahuan warga. Alhasil Mas Yos ini harus terkurung di penjara suci yang penuh dengan keberkahan untuk menyadarkan perbuatan salah Mas Yos. Tetapi, Mas Yos sendiri sebenarnya tidak mau mencuri celana dalam. Ia biasa mencuri motor, mobil, emas, dan barang berharga lainnya. Cerita Mas Yos sendiri dimasukan pesantren bukan karena butuh celana dalam wanita, akan tetapi kepepet kain untuk menutupi luka akibat jatuh dari motor supaya darahnya tidak mengalir.

Munkasyif yang sedari tadi memikirkan uangnya yang hilang terus saja bertanya-tanya sembari memakan nasi kotak yang dikasih Gus Din itu. Ditemani teman sebayanya bernama Asep.

“Sep, kamu kan teman curhatku selama masuk di pesantren ini. Kita tahu sendiri kan, kebanyakan dari kita adalah orang kriminal di luaran sana, termasuk aku. Aku juga niat masuk ke pesantren ini untuk merehabilitasi akhlaq-ku yang kurang baik ini.”

“Iyaa syif, memangnya kenapa?” diiringi Seruput kopi.

“Ini loh sep, uangku yang aku simpan di kanjut kundang hilang. Aku juga bingung, atau mungkin ini karma karena dulu juga aku sering mencuri uang ibu.”

“Kamu kan mantan kriminal, bisa jadi karma juga sih.”

“Tapi sep, itu sudah lama.”

“Iyaa jugaa sih. Mungkin ada yang tidak beres nih di pesantren kita, coba tanya Gus Din, bagaimana baiknya.”

“sudah, kata beliau tunggu saja. Kalau memang berkelanjutan, beliau turun tangan.”

“oh seperti itu, tapi kamu sudah tanya mas Yos? Katanya geng dia sangat disegani dibanding geng yang lainnya. Siapa tahu, dia bisa menunjukan orangnya.”

“kok pikiranmu sama sih Sep samaku. Aku juga terfikir untuk menanyakan perihal ini kepada Mas Yos. Tapi, aku takut disangka menuduh dia lagi,”

“Kamu coba tanya baik baik saja. Untuk menangkap serigala, tidak ada salahnya meminta bantuan kepada singa.”

“Yasudah selesai makan, kita temui saja dia ya. Antar aku Sep.”

“Iyaa hayuu.”

Selesai makan dihabiskan, Munkasyif dan Asep pergi menemui Mas Yos yang sedang menyiram tanaman bunga di pelataran masjid pesantren. Mas Yos sendiri, dibalik kesangarannya selalu memiliki rasa empati terhadap tanaman dan bunga bunga. Kerajinannya menyirami bunga tersebut, sudah menjadi kebiasaan setiap harinya di pesantren.

“Assalamualaikum, Mas.” Munkasyif dan asep datang dari arah belakang.

“Waalaikumsalam, eh Syif , Sep. Ada apa?” Sapaan ceria dibalas oleh mas Yos.

“Ini Mas, saya mau tanya. Barangkali Mas Yos tahu.”

“Iyaa kenapa Syif?”

“Saya kehilangan uang di lemari saya, barangkali Mas Yos tahu siapa pelakunya.”

Muka ramah Mas Yos berbalik 360 derajat, seketika Mas Yos pun memasang muka marah.

“Heh Syif, kamu seenaknya saja menuduh saya. Mentang mentang saya ketua geng, kamu seenaknya menuduh saya.”

“Bukan begitu loh Mas, saya Cuma mau menanyakan saja.”

“Gak ada, kamu menuduh saya itu namanya, sudah, saya tidak tahu. Kamu pergi, atau saya siram sampai kamu kehabisan nafas.”

“Iya mas iya, mohon maaf.”

“Assalamu’alaikum.” Munkasyif dan Asep pergi dengan jurus kaki seribunya itu.

Selepas shalat Asar, Mas Yos, langsung pergi menemui Gus Din. Gus Din sendiri yang tengah melanjutkan muthola’ah dihampiri oleh Mas Yos. Mas Yos sendiri yang dikenal dengan kesangarannya itu memang sangat menghormati Gus Din dan selalu menjadikan tempat curhat masalahnya.

“Assalamu’alaikum gus, mohon maaf menggangu waktunya.”

“Waalaikumsalam, kenapa Yos?”
Gus Din yang tengah muthola’ah dan menyeruput kopi di luar ruangannya, didatangi oleh Mas Yos yang ingin mengadu.

“Ini loh Gus, saya dituduh mencari uang oleh Munkasyif. Sembarangan dia.”

“mungkin dia mau bertanya Yos.”

“Enggak gitu Gus, itu namanya menuduh. Lagipula, dia tidak ada bukti untuk bertanya kepada saya.”

“Yasudah, begini saja. Kamu kan mempunyai pengaruh besar di kalangan santri. Para santripun enggan dan segan melihat wibawamu, Yos.”

Mendengar ucapan Gus Din, Mas Yos semakin membusungkan dada. Merasa dirinya memang berharga.

“Kamu aku kasih amanah yah, jadi ketua keamanan. Tugasnya, menjaga dan mengelilingi asrama, mau atau tidak?”

“aku kesini mau mengadu, Gus.”

“Iya aku tahu, aku langsung punya inisiatif, bagaimana kalau kamu menjadi ketua keamanan saja, supaya terbiasa menjaga dan mengelilingi asrama. Mau atau tidak?”

“Karena ini, kamu yang milih Gus, aku mau kalau begitu. Lagipula siapa tahu aku dapat menangkap pelaku itu.”

“Nah, kan sekarang pesantren kita jadi aman.”

“Yasudah Gus, aku pergi dulu ya. Dan mulai menjaga dan mengelilingi asrama.”

“Baik kalau begitu, semoga amanah yah.”

“Siap gus, terimakasih banyak.”

“Iya, sama sama.”

Setelah itu, Mas Yos yang sudah punya wewenang untuk menjaga keamanan pesantren setiap hari menjaga dan mengelilingi asrama. Baik pagi, siang, maupun malam. Keberlangsungan itu sudah berjalan hampir sebulan penuh. Namun di satu malam, Mas Yos sempat terfikir.

“Dipikir-pikir, kalau aku terus-terusan begini, segala bunga yang selalu kusiram akan terbengkalai, waktu istirahatku pun terganggu, aku kan ketua geng, mana ada ketua geng harus terjun langsung, lagipula aku punya anak buah, aku gunakan saja mereka.”

Selepas pemikiran itu merasuki Mas Yos, rupanya mas Yos menghadap Gus Din selepas salat subuh untuk mengadu lagi.

“Gus, aku mau mengadu lagi.”

“Kenapa Yos?”

“Aku kan ketua geng, mana mungkin aku harus terjun langsung menjaga dan mengelilingi asrama, enak saja mereka, harusnya aku yang dijagain waktu istirahat oleh mereka, ini aku malah ngejagain santri-santri picik itu, aku gak sudi Gus. Bagaimana kalau anak buahku saja?”

“Jangan Yos, jangan. Pengaruh anak buahmu tidak sehebat kamu, nanti bakalan terjadi yang kedua kalinya.”

“Mau bagaimana lagi Gus?”

“Duh, walaupun saya tidak setuju, karena pengaruh anak buahmu tidak sekuat kamu. Tapi, kalau itu maumu, aku juga bisa apa, yang penting intinya pesantren kita terjaga. Seperti kaidah ushul fiqih, perkara yang tidak bisa dikerjakan semua, jangan ditinggalkan semua. Karena kamu enggan menjaga, yang penting anak buahmu menggantikannya.”

Bulan depan, gantian anak buah Mas Yos yang menjaga dan mengelilingi asrama, Mas Yos yang sedang menyaksikan anak buahnya menjaga dan mengelilingi asrama sembari istirahat mengintip di jendela, sangat bahagia karena merasa menjadi orang penting. Akan tetapi, keberlangsungan itu tidak sampai mencapai satu bulan, pada minggu kedua, gantian anak buah Mas Yos yang protes.

“Mas, masa aku disuruh keliling dan jagain santri. Mantan preman ini masa jagain santri picik. Mana sudi aku, harusnya aku yang dijagain.” protes anak buah Mas Yos.

“Ya kalau kamu enggak terima, kamu harus cari orang lain dulu buat gantikan posisimu, gitu aja kok repot.” kata Mas Yos.

Hal ini berlangsung sampai beberapa bulan. Sampai akhirnya, Mas Yos dan anak buahnya — termasuk yang nyuri uang— jadi dijagain oleh santri santri baru. Alhasil, pencurian uang pun jadi hilang sampai ke akar-akarnya. Hanya karena hal sepele, para mantan preman itu tidak sudi menjaga dan mengelilingi asrama dan lebih ingin mereka yang dijaga.

*) Terinspirasi dari cerita Ahmad Khadafi (Penulis) yang bersumber inspirasi dari kisah Kiai As’ad Syamsul Arifin dari Situbondo.