Caritaan,  Hukum

Sistem Itu Dibuat Seharusnya Untuk Memudahkan

Latatu Nandemar
Latest posts by Latatu Nandemar (see all)
Sumber: Cerdika.com

Kita kembali disuguhi peraturan yang membuat pikiran kita ruwet dan ribet, seperti bakmie yang diaduk di mangkuk. Bedanya bakmie bikin kenyang, peraturan ribet bikin emosi. Padahal pemimpin negara ini pernah berpidato mengungkapkan kekesalannya tentang masalah peraturan-peraturan yang bisa mencekik karena terjerat peraturan-peraturan yang dibuat sendiri.

Setelah himbauan dari kepolisian kepada para pengguna motor untuk tidak lagi menggunakan  sandal jepit, kini Pertamina membuat aturan bagi pelanggan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite untuk menginstal aplikasi MyPertamina sebagai sistem pembayaran digital, tidak lagi dengan cara manual, dengan alasan agar mudah memantau pengguna BBM jenis ini sehingga tidak dibeli oleh orang yang tidak layak membelinya.

Tetapi bagi saya sebagai rakyat jelata dan pengguna Pertalite yang setia, justru peraturan ini malah membuat ruwet. Bagaimana tidak? Kita tidak lagi bisa sat-set dalam urusan mengisi bensin. Saya biasanya cukup datang ke SPBU terdekat setelah sebelumnya siapkan uang di saku terlebih dahulu, dilanjutkan dengan buka jok motor, buka tangki, isi, bayar dan selesai kemudian langsung pergi sambil membalas ucapan terima kasih dan senyum manis dari si mbak petugas SPBU. Ups, maaf lupa, tangki bensin dan joknya ditutup dulu.

Tetapi kini kemudahan itu terancam hilang. Saya dan rakyat jelata lainnya harus menginstal terlebih dahulu aplikasi MyPertamina sebagai syarat untuk bisa isi BBM Pertalite. Itu artinya harus punya android yang support untuk urusan instal-menginstal ini. Maka jika Anda tidak sanggup membeli android, Anda harus membeli BBM jenis pertamax untuk ‘minuman’ kendaraan Anda. Jadi Anda akan menjadi orang miskin yang mengkonsumsi pertamax yang notabene adalah barang mewah,  wow. Setelah kita instal, maka kita lanjut ke proses pendaftaran yang sepertinya tidak semua orang paham.

Bagi masyarakat yang bekerja di sektor informal dan sangat jarang berinteraksi dengan yang namanya birokrasi, ini akan terasa sangat njelimet. Coba perhatikan urutan-urutan tutorial yang sempat saya baca untuk mendaftar supaya kita bisa beli BBM jenis Pertalite ini:

pertama, siapkan terlebih dahulu dokumen-dokumen seperti KTP, STNK, foto kendaraan dari berbagai sudut yang biasa ‘diminumi’ Pertalitenya. Kedua, kita harus download aplikasi MyPertamina di android kita dan isi form-form yang tidak akan saya jabarkan di sini satu persatu, (tuh, kan. Menjelaskannya saja saya sudah merasa ribet). Ketiga, jika semua sudah terlewati dengan baik dan juga benar, kita harus login dengan menggunakan nomor HP dan PIN yang sudah dibuat. Jika Anda termasuk yang suka gonta-ganti nomor HP dan pelanggan BBM ini, mulai sekarang hentikan kebiasaan itu, karena hanya akan semakin menambah ruwet saja nantinya.

Juga, ada tambahan untuk mengaktifkan sistem uang digital sebagai pengganti dompet yang biasa kita bawa ke SPBU, yaitu aplikasi dana LinkAja, ke depannya nanti, setiap kita akan mengisi kendaraan kita dengan Pertalite, maka kita tidak harus membuka dompet, tetapi harus menyiapkan Android yang sebelumnya harus isi saldo terlebih dahulu dengan menggunakan aplikasi dana LinkAja ini, (Jangan lupa, biasanya ada biaya admin).

Maaf, jika boleh saya ber-su’udzon, sepertinya kebijakan ini berhubungan dengan himbauan untuk tidak lagi menggunakan sandal jepit saat mengendarai motor. Mungkin ini hanyalah akal-akalan para petinggi di sana supaya semua orang malas untuk membeli bensin bersubsidi dan kemudian beralih ke Pertamax yang cara pembeliannya tidak dibuat ribet meski harga yang dibanderol cukup mahal. Dengan begitu Pertamax akan tetap laku di pasaran, kemudian pembelian terhadap Pertamax bisa dimanfaatkan dengan dijadikan indikator palsu oleh dinas pemerintah yang menangani masalah kemiskinan, dengan menghadirkan data bahwa angka kemiskinan sudah turun drastis.

Sebagai buktinya akan diperlihatkan data tentang daya beli masyarakat yang lebih memilih BBM mahal daripada BBM bersubsidi. Dan sebagai bukti tambahan lainnya bahwa angka kemiskinan sudah turun, ketika dilakukan survey ke lapangan akan terlihat bahwa para pengguna motor tak ada yang memakai sandal jepit. Semuanya menggunakan sepatu sebagai cerminan kemakmuran. Hehehe, maap… hanya analisis ngawur dari saya yang kurang tidur.

Kami tahu ini adalah era digital, tetapi jangan lupa bahwa di era digital ini masih ada yang bertahan dengan sistem analog. Jadi tetaplah penuhi hak-hak yang masih bertahan dengan cara lama ini. Jika memang alasannya adalah agar BBM bersubsidi tidak diserobot oleh orang-orang kaya, saya rasa cukup dilakukan pengetatan saja pada sistem layanan pembayaran langsung.

Jika ada kendaraan mewah masuk antrian BBM subsidi, tinggal diarahkan ke mana kendaraan tersebut harus mengantri, saya rasa tidak sulit bagi petugas SPBU untuk membedakan mana yang layak dan mana yang tidak layak mengkonsumsi BBM bersubsidi untuk kendaraannya. Juga bisa ditambahi spanduk-spanduk di sekitaran SPBU yang isinya peringatan dan sindiran kepada orang-orang kaya yang begitu tega mengambil jatah orang susah.

Dengan begitu mudah-mudahan lambat laun mereka akan tersadarkan. Sistem pembelian tetap menggunakan cara lama yang tidak menyusahkan masyarakat bawah, dan BBM bersubsidi tetap mengalir pada wadah yang tepat. Pada akhirnya semua akan merasa senang.