Esai,  Sosial Budaya

Refleksi Hari Tani Nasional: Menengok Luka Petani Hari Ini

Umar Ma'ruf
Sumber: VectorStock

Indonesia merupakan negara agraris yang artinya negara petanian, mengapa demikian, sebab sebagian masyarakat Indonesia adalah petani, secara etimologi dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) petani berarti; orang yang pekerjaanya bercocok tanam, sedangkan secara terminologi dikutip dari seorang ahli bernama Eric R. Wolf. bahwa petani adalah;

“Penduduk yang secara eksistensial terlibat dalam cocok tanam dan membuat keputusan yang otonom tentang proses tanam. Kategori itu dengan demikian mencakup penggarapan atau penerima bagi hasil maupun pemilik penggarap selama mereka ini berada pada posisi pembuat keputusan yang relevan tentang bagaimana pertumbuhan tanaman mereka. Namun itu tidak memasukkan nelayan atau buruh tani tak bertanam,”

Tak hanya itu, dalam kamus Sosiologi karangan Soerjono Soekanto dikatakan bahwa yang dimaksud dengan petani (peasant) adalah “seseorang yang pekerjaan utamanya bertani untuk konsumsi diri sendiri atau keluarganya.”

Definisi yang dikemukakan oleh Wolf menitikberatkan pada kegiatan seseorang yang secara nyata bercocok tanam dan membuat keputusannya sendiri dalam proses cocok tanam. Oleh karenanya beliau tidak memasukkan buruh tani tak bertanah karena dianggap sebagai pekerja yang tidak berhak membuat keputusan atas tanaman.

Berdasarkan dua pengertian di atas, dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan petani di sini orang, baik yang mempunyai maupun yang tidak mempunyai tanah sendiri yang mata pencaharian pokoknya adalah mengusahakan tanah untuk pertanian. Di Indonesia BPS (Badan Pusat Statisik) mencatat per 2019 jumlah petani di Indonesia mencapai 33,4 juta orang, dan menurut BPS sektor pertanian merupakan sektor yang menyerap lapangan tertinggi di tahun 2022.

Seperti yang kita ketahui bahwa setiap tanggal 24 September diperingati sebagai Hari Tani Nasional, dimana hari ini merupakan suatu bentuk peringatan dalam mengenang sejarah, jasa, dan perjuangan kaum petani serta membebaskannya dari penderitaan, maka dari itu pada tanggal 24 September diperingatilah sebagai hari tani nasional yang diambil dari tanggal dikeluarkannya UUPA (Undang-Undang Pokok Agraria) pada tahun 1960.

Namun nyatanya di hari ini para petani masih banyak yang menangis di negeri yang katanya agraris, sebab luka yang menimpa petani tak kunjung usai, persoalan pertanian bukanlah persoalan remeh yang selanjutnya hanya diserahkan penyelesaiannya oleh masing-masing petani, mengingat petani merupakan penolong negeri begitulah dawuh KH. Hasyim Asy’ari seorang ulama besar pendiri NU. Setidaknya ada 5 luka petani yang berhasil penulis rangkum:

Dipandang Sebelah Mata

Hari ini profesi sebagai petani masih dianggap remeh, dipandang sebelah mata, dan dianggap kolot/kuno dan orang dengan kasta rendah.

Krisis Regenerasi

Masalah kedua ini salah satu sebabnya adalah masalah yang pertama, akhirnya regenerasi petani mengalami krisis, anak muda enggan menjadi petani, dan lebih  memilih menjadi pegawai kantoran, bahkan sampai bermigrasi ke kota meninggalkan sawah ladangnya dan memilih menjadi karyawan di perusahaan.

Mata Rantai Niaga Yang Merugikan

Masih terjadi kesenjangan dalam proses pembagian keuntungan antara petani dan distributor, dan tentunya dalam proses mata rantai niaga ini petani selalu yang menjadi sosok yang dirugikan, hasil yang didapat petani selalu tak sebanding dengan apa yang sudah dilakukan dan resiko yang dihadapi petani.

Kesulitan Mendapat Modal

Usaha pertanian yang tidak pasti sebab bergantung pada alam, selalu menjadi alasan pemberi pinjaman enggan memberikan pinjaman modal bagi para petani yang membutuhkan modal di awal musim penggarapan.

Ketidakseriusan Pemerintah Dalam Mensejahterakan Petani

Dalam masalah ini pemerintah selaku pemangku kebijakan belum mampu memberikan kesejahteraan bagi petani, masalah-masalah yang dihadapi petani tak kunjung usai, bahkan dari tahun ke tahun masalah kian bertambah. Sebagai contoh; permasalahan pengadaan bibit, pupuk, alat kelola pertanian, hingga regulasi harga belum mampu pemerintah selesaikan secara tuntas. Bahkan pemerintah kerap blunder dalam mengeluarkan kebijakan dalam sektor pertanian yang akhirnya menimbulkan masalah-masalah baru yang akhirnya membuat petani kembali menangis, seperti contohnya; pemerintah membuat sebuah Proyek Strategis Nasional (PSN) di dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 berupa Reforma Agraria yang disosialisasikian oleh Kementerian ATR/BPN sejak mei 2021, alih-alih menjalankan reforma agraria pemerintah justru mengesahkan Undang-Undang nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja (UU Cipta Kerja) dengan metode omnibus law, yang mengakibatkan perubahan besar dalam arah kebijakan pembangunan agraria di Indonesia.

Itulah 5 luka yang berhasil penulis rangkum, tentunya masih banyak lagi masalah-masalah lainnya seputar dunia pertanian, dan tentunya uraian singkat di atas memiliki banyak kekurangan dan hanya sekelumit sumbangsih penulis yang memiliki impian petani Indonesia mengalami nasib baik sejahtera tanpa luka, makmur tanpa tersungkur, dan sukses tanpa tetesan air mata.

Harapannya kedepannya semakin banyak yang menengok dan berbicara tentang bagaimana mampu mensejahterakan kaum tani, tentunya dalam menyelesaiakan masalah-masalah di atas dan masalah petanian lainnya perlu banyak elemen yang dilibatkan, bukan hanya tugas pemerintah atau dari petani sendiri, tentunya semua elemen bisa bahu-membahu menyelesaikan permasalan yang dialami petani hari ini. Semoga kedepannya petani dapat lebih sejahtera, makmur dan sukses, penulis yakin jika petani hebat, Indonesia akan kuat.