Agama,  Esai

Profil Para Istri Nabi dan Motif Nabi Menikahinya

Andri Nurjaman, S.Hum.
Sumber: cnnindonesia.com

Secara umum kehidupan berumah tangga Rasulullah SAW berjalan dengan baik dan harmonis, namun tidak bisa dipungkiri Rasul sebagai manusia yang mempunyai sifat kemanusiaan terjadi hal-hal yang mewarnai dalam rumah tangga Rasul seperti cemburu dan keinginan istri untuk memperoleh hidup mewah. Karakter hidup berumah tangga ala Rasul adalah hidup dalam kesederhanaan, tidak memiliki perabotan mewah, kekurangan, kadang-kadang tidak makan selama beberapa hari. Sampai sahabat Umar bin Khatab pernah sampai menangis menyaksikan kehidupan rumah tangga Rasulullah tersebut. Dalam kaitan hal ini, Syed Mahmud Unnasir mengemukakan bahwa: “kesederhanaan merupakan inti akhlak Nabi, Dia memiliki kebajikan untuk kepentingan akhlaq itu sendiri, moral-moral yang tinggi merupakan gambaran yang menarik dari akhlaknya, bukan suatu kemahiran di dalam sifatnya”. Meskipun kondisi kehidupan rumah tangga Rasulullah tidak pernah berlebihan akan tetapi sangat peduli dengan suasana rumah tangga para sahabat yang memprihatinkan, sehingga meskipun suasana dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga pas-pasan akan tetapi tetap memberikan sedekah kepada yang lain yang tidak berbeda dengan orang-orang yang berlebihan, seperti Abu Bakar, Usman serta sahabat-sahabat lainnya.

Hartati mengungkapkan dalam penelitian Skripsinya yang berjudul “Nilai-Nilai Edukatif Dalam rumah Tangga Rasulullah SAW”, bahwasannya Rasulullah memiliki pembantu untuk melayani kegiatan rumah tangganya, pembantu Rasulullah digolongkan menjadi dua yaitu Khadm dan Mawlan. Khadm adalah pembantu murni sedangkan Mawlan adalah hamba sahaya yang telah dimerdekakan oleh Rasul. Para pembantu Rasul tersebut dari kaum laki-laki seperti Anas bin Malik, Aiman bin Tamam Aiman, Abdullah ibnu Mas’ud, Ukbah bin Amruh Al-juhain, Abu Dzar Al-ghifari, Muhajir, Abu Jamrah, sedangkan dari kaum wanita adalah Barakah atau Ummu Aiman Al-Habsyi, Salman Ummu Rafi, Sahaya Ruqaiyyah binti Rasul.

Adapun istri-istri Rasulullah SAW dan motif pernikahannya adalah sebagai berikut;

Siti Khadijah binti Khuwailid R.A
Dalam skripsinya Belinda Damayanti yang berjudul “Nilai-Nilai Edukatif Dalam Rumah Tangga Rasulullah SAW”, Rasulullah SAW mulai mengarungi hidup berkeluarga dalam usia dua puluh lima tahun. Wanita yang pertama dinikahinya adalah seorang janda empat puluh tahun yang bernama Khadijah binti Khuwailid bin Abd Al-Uzza bin Qasay Al-Quraisyiyah Al-Asadiyah. Sebelumnya, Khadijah adalah istri abu Halah bin Zura’ah kemudian Atiq bin A’iz yang keduanya telah meninggal. Menurut riwayat Ibn Abbas,dari pernikahannya itu, Rasulullah SAW dianugerahi dua putra dan empat putri yang semuanya lahir sebelum turunnya wahyu. Secara berurutan yaitu Qasim, Zainab, Abdullah, Ummu Kulsum, Fatimah, dan Ruqayyah. Setelah dua puluh lima tahun hidup bersama Rasulullah SAW, Khadijah meninggal dunia di Mekkah tepatnya pada tahun ke-10 setelah Rasulullah SAW menerima wahyu yang pertama. Khadijah meninggal pada usia enam puluh lima tahun.

Kondisi siti Khadijah adalah seorang pengusaha, keturunan bangsawan Quraisy, dikaruniai 4 orang anak dari pernikahan sebelumnya dan 6 anak dengan nabi Muhammad SAW, status pernikahan saat dinikahi oleh Rasul adalah dua kali janda, usia Khadijah saat menikah dengan Rasul adalah 40 tahun sedangkan Rasul berusia 25 tahun, alasan dinikahi oleh Rasulullah adalah petunjuk dari Allah SWT karena dia adalah wanita pertama yang memeluk Islam dan mendukung dakwah Nabi.

Saudah binti Zam’ah R.A
Setelah meninggalnya Khadijah, tepatnya bulan Ramadhan tahun ke-10, Rasulullah SAW menikah dengan seseorang janda bernama Saudah binti Zam’ah bin Qais bin Abd Syams Al-Quraisyiyyah Al-Amiriyyah. Pernikahan itu dilangsungkan di Kota Mekkah. Mantan suaminya, Sakran bin Amr bin Abd Asy-Syams meninggal dunia. Ia adalah wanita pertama yang dinikahi Rasulullah SAW setelah Khadijah.

Saudah adalah wanita berkulit hitam dari Sudan, janda dari sahabat Nabi As-Sukran bin Amral Al-Anshari yang wafat menjadi perisai Nabi di medan perang. Memiliki 12 anak dari pernikahan dengan suami pertama. Status pernikahan saat dinikahi Rasul adalah janda dan usia saat dinikahi Rasul adalah 70 tahun, sedangkan Rasul berusia 52 tahun. Alasan dinikahi oleh Rasulullah adalah menjaga keimanan Saudah dari gangguan kaum musyrikin.

Aisyah binti Abu Bakar R.A
Dalam Kitab “Usud Al-Ghabah fi Ma’arifah Al-Sahabah” karya Abu al-Hasan Ali bin Muhammad Al-Jazari bahwa Aisyah adalah istri Rasulullah Muhammad SAW yang paling dicintai dan disayangi. Aisyah adalah seorang gadis dari laki-laki sahabat terdekat Rasulullah SAW yaitu sahabat Abu Bakar Ash-Shidiq. Ibu Aisyah bernama Ummu Ruman bin Amir Al-Kinayah, seorang ibu yang bijaksana sehingga mampu mengantarkan anak perempuannya menjadi wanita pilihan Rasulullah SAW. Nabi pun pernah menyanjung Ummu Ruman sebagai berikut: “siapa yang ingin melihat bidadari, lihatlah Ummu Ruman”.

Begitulah sosok Aisyah yang dituturkan oleh Sulaiman An-Nabawi berjudul “Aisyah R.A The Greatest Woman”, seorang perempuan yang lahir dari ibu dan bapak yang mulia. Adik dari Abdurahman seorang laki-laki yang tegar dan teguh memegang sunnah dengan menolak bai’at kepada Yazid putra Muawiyah menjadi Khalifah, bersama seorang kakak yang demikian kukuh inilah Aisyah menjalani hidup semasa kecil.

Aisyah adalah seorang gadis yang cantik dan cerdas yang merupakan putri dari Abu Bakar As-sidiq, Saat dinikahi Rasulullah Aisyah berstatus sebagai gadis, usia Aisyah saat dinikahi Rasul adalah 9 tahun, ada juga yang mengatakan 19 tahun, sedangkan nabi berusia 52 tahun. Alasan dinikahi oleh Rasul adalah petunjuk dari Allah SWT, Rasulullah mengajarkan kewanitaan agar disampaikan kepada para umatnya kelak dan Aisyah banyak menghafal hadits dari Rasulullah SAW.

Hafshah binti Umar R.A
Belinda Damayanti dalam “Nilai-Nilai Edukatif Dalam Rumah Tangga Rasulullah SAW” menyebutkan setelah pernikahannya dengan Aisyah, Rasulullah SAW melangsungkan pernikahan lagi dengan Hafsah binti Umar bin Khattab, tepatnya tiga tahun setelah beliau dan kaum muslimin seluruhnya hijrah ke Kota Madinah. Hijrah dilakukan pada tahun ke-13 setelah kerasulan, dan sampai di kota itu pada hari senin tanggal 12 rabiul awal. Wanita yang baru saja menghabiskan masa tunggu (iddah) nya ini adalah mantan istri Khunais bin Khuzafah, seorang sahabat Rasulullah SAW yang tewas dalam pertempuran Badar. Pernikahan ini berlangsung setelah beliau ditawari sendiri oleh ayah Hafsyah yaitu sahabat Umar bin Khattab, tepatnya pada bulan Sya’ban (30 bulan sebelum perang Uhud pecah). Dalam perjalanan rumah tangganya, ia pernah dicerai Rasulullah namun dirujuk kembali.

Usia hafsah saat dinikahi oleh Rasul adalah berumur 35 tahun sedangkan Rasul berusia 61 tahun. Alasan dinikahi oleh Rasul adalah petunjuk dari Allah, hikmahnya adalah Hafsah adalah wanita pertama yang hafal Al-Qur’an 30 Juz dinikahi oleh Rasulullah agar bisa menjaga keotentikan Al-Qur’an.

Zainab binti Khuzaimah R.A
Pada bulan Ramadan tahun 3 H, Rasulullah SAW menikah dengan seorang janda bernama Zainab binti Khuzaimah bin Abdullah bin Umar bin Abd Manaf bin Hillal bin Amir bin Sa’saah Al-Hilaliyyah. Namun janda dari Abdullah bin Jahsy riwayat lain mengatakan Taufail bin Haris dan kemudian digantikan oleh saudaranya Ubaidah bin Haris ini hanya melangsungkan hidupnya bersama Rasulullah SAW selama delapan bulan. Ia meninggal dunia pada bulan Rabi’ul akhir tahun 4 H, kemudian dimakamkan di makam Baqi Madinah.

Zainab selain seorang janda, dia juga banyak memelihara anak-anak yatim dan orang-orang lemah di rumahnya, sehingga mendapat gelar ibu dari faqir miskin. Usia dia ketika dinikahi oleh Rasul adalah 50 tahun, sedangkan usia Rasul berumur 58 tahun, alasan dinikahi adalah petunjuk dari Allah SWT dan Rasulullah memilihnya untuk bersama-sama menyantuni anak-anak yatim dan orang-orang lemah.

Ummu Salamah binti Abu Umayyah R.A
Rasulullah SAW menikah dengan Ummu Salamah binti Ummayah bin Abdullah bin Amr bin Quraisyiyyah Al- Makhzumiyyah ini, pada bulan Syawal 4 H. Janda yang mempunyai nama asli Hindun ini adalah mantan istri saudara sepupunya yaitu Abu Salamah yang telah meninggal pada pertempuran Uhud.

Ummu Salamah adalah putri dari bibi Rasulullah SAW, seorang janda yang pandai mengajar dan berpidato, usianya ketika dinikahi oleh Rasul adalah 62 tahun, dan nabi berumur 56 tahun. Alasan dinikahi adalah perintah Allah agar membantu nabi berdakwah dan mengajar kaum wanita.

Zainab binti Jahsy R.A
Rasulullah SAW pernah menikah dengan Zainab binti Jahsy Al-Asadiyyah pada bulan Dzul Qa’dah pada tahun ke-5 Hijriah. Zainab adalah seorang janda berumur 30 tahun dan dia adalah mantan istri dari Zaid bin Harisah, bekas hamba Rasululllah SAW dengan Zainab inilah yang disebut-sebut sebagai pernikahan yang diperintahkan langsung oleh Allah SWT.

Hal yang menarik dari pernikahan Zainab adalah peminangannya oleh Rasulullah SAW, sebagai pakar berpendapat bahwa Rasulullah SAW meminang Zainab ketika ia berstatus sebagai istri dari Zaid, berdasarkan riwayat yang menceritakan bahwa suatu ketika Rasul singgah ke rumah Zaid namun zaid sedang tidak berada di rumah, lalu Rasul pun disambut oleh Zainab, dan Zainab mengenakan pakaian-pakaian yang memperlihatkan kecantikannya yang sangat mempengaruhi hati Rasulullah SAW, maka berkatalah Beliau: “Mahasuci Allah yang telah membalikan hati manusia”, kata-kata tersebut diulang lagi ketika Rasul meninggalkan tempat tersebut. Zainab mendengar kata-kata itu dan ia melihat api cinta itu bersinar dari mata Rasulullah SAW, zainab pun merasa bangga terhadap dirinya dan apa yang didengarnya itu lantas diberitahukan kepada suaminya yaitu Zaid, waktu itu juga Zaid langsung menemui Rasul dan mengatakan bahwa ia bersedia menceraikannya.

Tetapi, setelah kejadian itu, pergaulan Zaid dan Zainab tidak baik lagi dan kemudian ia cerai. Ada juga yang mengatakan, setelah ia dicerai oleh Zaid, Rasulullah SAW menahan diri dan tidak segera menikahinya sekalipun hatinya gelisah. Dan setelah turun wahyu yang memerintahkan Rasulullah SAW untuk menikahinya, maka segeralah ia menikahinya. Namun terhadap semua riwayat itu, kebanyakan ahli, baik tafsir maupun hadist serta merta menolaknya. Mereka sepakat mengatakan bahwa riwayat-riwayat itu adalah bagian dari cerita isra’iliyat terdapat dalam beberapa buku tafsir.

Terlepas dari itu semua, usia Zainab binti Jahsy ketika dinikahi Nabi adalah 45 tahun, sedangkan nabi berumur 56 tahun. Alasan dinikahi adalah perintah Allah bahwa pernikahan harus sekufu.

Juwairiyyah binti Haris R.A
Pernikahan Rasulullah dengan Juwairiyyah binti Haris bin Abu Dirar bin Habib bin Khuzaimah adalah putri dari kepala suku Mustaliq, pernikahannya dilaksanakan setelah pertempuran di Muraisi yaitu perang antara orang Islam dengan bani Mustali pada tahun 6 H. Juwairiyyah adalah janda menjelang usia 20 tahun adalah mantan istri Mustafi bin Safwan yang terbunuh dalam pertempuran tersebut. Karena merasa hina, sehubungan dirinya menjadi tawanan dan menjadi jatah Sabit bin Qais bin Syammas, sementara ia adalah bangsawan dari keluarga terhormat, maka ia memohon kepada Rasulullah SAW agar menebusnya. Waktu itu Rasul bersedia menebusnya dan menawarkannya akan dinikahinya. Kemudian atas tawaran itu, ia segera menyetujuinya akhirnya ia dinikahi oleh Rasulullah SAW.

Usia ketika dinikahi oleh Rasul adalah 65 tahun sedangkan Rasul berusia 57 tahun. Alasan dinikahi oleh Rasulullah adalah petunjuk dari Allah, memerdekakan perbudakan dan pembebasan dari tawanan dan menjaga ketauhidan.

Safiyyah binti Huyai R.A (Wanita Bani Nadhir)
Rasulullah SAW melangsungkan pernikahan dengan Safiyyah binti Huyai bin Akhtab bin Sa’nan bin Salabah bin Ubaid bin Abu Ka’b bin Abu Habib pada tahun 6 H. Janda dari bani Nadir yang usianya belum genap 17 tahun ini sebelumnya dinikahi oleh Salman bin Miskam yang kemudian digantikan oleh Kirana bin Abu Al-Haqiq. Suaminya yang terakhir ini terbunuh ketika ia bersama Safiyyah ditawan dalam pertempuran Khaibar.

Status Safiyyah saat dinikahi oleh Rasul adalah dua kali janda, usia dia ketika menikah dengan rasul adalah 53 tahun sedangkan rasul 58 tahun. Alasan dinikahi adalah menjaga keimanan Safiyyah dari boikot orang Yahudi.

Ummu Habibah binti Abu Sufyan R.A
Selanjutnya pada tahun 7 H, Rasulullah SAW menikah dengan Ummu Habibah binti Abu Sufyan janda Ubaidillah bin Jahsy. Mantan istri Ubaidah bin Jahsy, cerai karena suaminya pindah agama menjadi Nasrani. Usia dia ketika menikah dengan Rasul 47 tahun dan Rasul 57 tahun. Alasan dinikahi oleh Rasul adalah menjaga keimanan Ummu Habibah agar tidak murtad.

Mariyah Al-Qibthiyyah R.A (Ummu Ibrahim)
Pada tahun ke 7 H, Rasulullah SAW menikah dengan Mariyah Al-Qibthiyyah dan melahirkan putra beliau yang bernama Ibrahim. Dia adalah seorang budak yang dihadiahkan oleh raja Muqauqis dari Iskandaria Mesir, dia adalah gadis ketika dinikahi oleh Rasul berumur 25 tahun dan Rasul berumur 59 tahun. Menikahi untuk kemerdekaan dari perbudakan dan menjaga keimanan Mariyyah.

Maimunah binti Al-Harist R.A (Ummu Mu’minin terakhir)
Selanjutnya ketika Rasulullah SAW berada di Makkah ada wanita terhormat yang hatinya tertarik kepada Rasulullah SAW, wanita itu adalah Barrah Binti Al- Harist bin Hazn bin Buzair Al- Amiriyyah Al-Hilaliyyah yang ketika sesudah menikah oleh Rasulullah SAW diganti dengan nama “Maimunah” yang bermakna wanita yang dikaruniakan keberuntungan. Sementara riwayat menuturkan bahwa Barrah secara langsung menghibahkan dirinya kepada Rasulullah SAW. Dan peristiwa itulah yang menyebabkan turunnya ayat Q.S Al-Ahzab ayat 50 yang artinya: “dan perempuan beriman yang menghibahkan (menyerahkan) dirinya kepada Nabi, jika Nabi mau menikahinya. (Ketahuilah itu ) khusus bagimu (hai nabi), tidak bagi orang beriman.

Maimunah adalah mantan istri Abu Ryham bin Abdul Uzza, dia adalah janda ketika dinikahi oleh Rasul berusia 63 tahun dan Rasul berusia 58 tahun. Alasan dinikahi Rasul adalah mengembangkan dakwah di kalangan bani Nadhir.

Istri nabi Muhammad SAW yang berjumlah 12 tersebut rata-rata yang dinikahi oleh Nabi adalah berstatus janda dan sudah berumur tua, motif Nabi menikahi perempuan-perempuan tersebut adalah petunjuk dan perintah dari Allah SWT dengan tujuan untuk menjaga ketauhidan, keimanan, memerdekakan, dan menjadikan media dakwah Nabi.