Caritaan,  Sosial Budaya

Perpecahan Antar Saku

Parid Maulana
Latest posts by Parid Maulana (see all)
Sumber: Alif.id

“Televisi (media elektronik) telah menggeser agama masyarakat. Ia telah menggeserkan manusia dari agama konvensional”.

__Gorge Gerbner

 

Seperti kita ketahui perkembangan pertelevisian dan akhir-akhir ini per-Youtube-an Indonesia secara tidak langsung telah menjadikan tayangan detik demi detiknya menjadi tuntunan bagi kaum posmodern, terlebih di kalangan muda millenial.

Disadari atau tidak kita lihat berbagai iklan yang bermunculan seakan menawarkan solusi kenyamanan dalam hidup yang nyata. Namun, dibalik itu semua para penguasa, pebisnis dsb. yang tak bertanggung jawab sebenarnya mereka ingin memperkenalkan second hand reality (realitas kedua) di samping keuntungan yang menjadi-jadi kelipatannya. Hal inilah yang kemudian dikhawatirkan oleh sebagian manusia yang mau bepikir, karena sejatinya tindakan seperti itu dapat menghalangi dirinya dalam menemukan pribadi mereka yang sebenarnya.

Dalam hal itu Louis Alvin Day dalam bukunya yang berjudul “Etics in media comunication” pernah berkata, “we are what we are read/view (kita menjadi apa yang kita tonton dan apa yang kita lihat). Artinya secara tidak langsung kita telah mengikuti dan malah terjerumus dalam kubangan pranata sosial yang tak tau arah.

Sebut saja misalnya, pabila manusia telah berada dalam kubangan realita yang kedua akibat dunia Televisi, internet, Youtube, tiktok, instagram dan sebagainya. Mereka akan mengalami semacam berjalan di jalan yang salah atau menyalahi kodratnya. Contoh kasus si A merupakan seorang mahasiswa, namun kelakuannya tidak mencerminkan seorang mahasiswa yang semestinya, hal ini dapat kita lihat dari dandanannya yang seperti model, kemudian datang ke kelas seenaknya, kuliah pulang kuliah pulang tanpa sedikitpun memperhatikan asupan pikirannya, selain itu ia lebih sering nonkrong di caffe-caffe, mall dan tempat nongkrong semacamnya. Tanpa ia sadari sebenarnya mereka telah terhegemoni dengan iklan-iklan di berbagai media. Yang pada akhirnya hal ini dapat merusak ekosistem kehidupan umat akademik. Seorang mahasiswa yang harusnya pola sikap dan pola pikirnya seorang pelajar, malah menjadi hedonis, apatis, sok Artis atau selebritis yang tidak kesampaian.

Contoh kasus lainnya. Apa yang terlintas dalam benak Anda ketika melihat seorang mahasiswa berpenampilan lecek, lusuh sederhana bak pejalan kaki yang sudah lelah menghirup udara segar akibat banyaknya polusi dan emisi yang ditimbulkan oleh makhluk tak bertanggung jawab? Mungkin satu di antara kalian akan berkata “Tidak layak baginya untuk berada dikampus tercinta ini, hanya bikin malu aja.” Anda kok kaya gitu! tidak tahu mode fashion sekarang apa atau ungkapan tidak tahu bahwa ke kampus itu harus mengenakan pakaian yang bagus dan rapih”. Atau bisa jadi dari kalian ada yang berbaik hati kemudian mengajak mahasiswa tersebut tadi untuk pergi ke pasar lalu  dibelikanlah pakaian yang layak untuknya.

Sebagai seorang siswa yang menyandang gelar Maha, tentunya dalam berpenampilan pun harus maha, rasanya bila dalam sehari saja kalian tidak mengenakan pakaian, sepatu juga tas bagus juga branded meskipung hasil trifthing, mungkin sebagian dari kalian akan langsung terkena diare serta demam mual-mual akan penampilan. Secara! kan kalian ini manusia yang selalu eksis, tiap langkah dipenuhi dengan jepretan, wajah-wajah kalian selalu bersinar dengan cahaya Android dan dijemari-jemari kalian terpasang cincin ikatan untuk tetap dan selalu setia terhadap gadget.

Apakah Anda atau bahkan Penulis termasuk orang yang tidak terlalu mengutamakan penampilan? memangnya ada apa dengan penampilan?  Ya! di zaman now ini penampilan seringkali bagi sebagian kalangan menjadi tolak ukur apakah seseorang itu derajat sosialnya tinggi atau rendah, mereka biasanya mengkategorikan dari segi penampilan. Semakin tipis kain yang ia kenakan dapat dipastikan semakin tipis juga kulit celana dia.

Begitulah pandangan umum masyarakat sekarang, maka tidak mengherankan flexing terjadi di mana-mana bukan hanya di kalangan para penipu bahkan sekelas artis beken aja masih suka flexing.

Perlu kita ketahui sebelum membaca lebih jauh uraian ini. Bahwasanya lingkungan ini senantiasa berubah baik itu disebabkan oleh faktor alamiah, ulah manusia, ataupun faktor kehendak Tuhan yang sudah bosan dengan tingkah laku makhluk-Nya. Majunya berbagai macam teknologi juga industri ternyata berbanding lurus dengan keruksakan alam raya ini.

Menurut para peneliti di dunia, industri Fashion merupakan penyumbang terbesar kedua dalam hal pencemaran lingkungan setelah industri minyak. Dalam hal itu menurut penelitian tersebut, emisi gas yang ditimbulkan oleh industri ini jauh lebih merusak dibandingkan dengan emisi batu bara dan tetrokimia.

Salah satu bukti pencemaran itu bisa kita amati dalam beberapa laporan riset berbagai lembaga pemerhati lingkungan. Kita ambil contoh kerusakan terhadap biota air, dalam setahun volume air yang tercemar di seluruh dunia ini bisa mencapai 79 Miliar³ volume itu setara dengan jumlah air yang terkandung di 32 kolam renang olimpiade.

Dari sekian banyak pencemaran tersebut tentunya bisnis limbahnyapun tak kalah menakjubkan, dalam setahun bisnis ini bisa menghabiskan dana sekitar 500 Miliar USD. Sangat Wow sekali bukan! Namun dengan uang yang sangat banyak tadi tidak dapat mengangkat kembali lingkungan yang asri dan indah lagi dipandang baik bagi biota darat apalagi air.

Sampai saat ini pencemarann lingkungan memang menjadi momok yang paling menakutkan bagi keberlangsungan dunia. Hal ini karena resiko yang ditimbulkan lebih besar dibandingkan dengan gejala-gejala lainnya semisal pencemaran nama baik, saling lapor dan sebagainya. Namun sungguh ironis sekali ketika Penulis membaca beberapa artikel menyatakan bahwa di Indonesia sendiri terkhusus di sungai Citarum yang membentang di sekitar daerah Jawa Barat kini telah menjadi sangat kumuh dan kotor sekali.

Sebagai warga Jawa Barat sepertinya sudah bukan rahasia umum lagi memang beberapa pabrik tekstil seperti yang ada di Cimahi, Rancaekek, Bandung Raya dan sekitarnya, mereka melakukan pembuangan limbahnya ke sungai Citarum. Sebut saja untuk tahun 2019 yang akan datang menurut artikel kompas yang diterbitkan pada tanggal 26 September 2018 tepatnya pada pukul 16:05 WIB, Gubernur Jawa Barat M. Ridwan Kamil atau yang biasa akrab disapa dengan Kang Emil setidaknya harus menggelontorkan dana sebesar 15 T untuk mengurusi sungai tersebut. Wow! uang tersebut setara dengan 3 buah stadion Luzhniki Stadium yang mewah dan canggihnya triple bahkan super banget megahnya pada perhelatan laga Final Piala Dunia 2018 di Rusia.

Dalam beberapa kasus limbah industri sebenarnya yang disayangkan itu bukan persoalan pengeluaran anggaran namun lebih jauh yakni terjadinya ketidak harmonisan alam dengan lingkungan terkhusus manusia. Anggaran bisa saja besar namun upaya membuat asri kembali lingkungan tidak semudah membalikan telapak tangan, dibutuhkan tenaga dan pikiran yang ekstra untuk merealisasikan lingkungan asri tersebut.

Ada sebuah penggalan cerita menarik yang Penulis alami ketika Penulis hendak menuliskan sub judul ini. Karena Penulis harus mendapatkan data yang cukup memadai, maka Penulis berinisiatif dan memberanikan diri untuk membuat semacam Draft wawancara (Kuisioner) yang kemudian Penulis tanyakan kepada beberapa mahasiswa juga mahasiswi di kampus Penulis. Pertanyaannya kurang lebih seperti ini.

Bak seorang reporter amatiran yang meminta tanggapan juga jawaban kepada masyarakat yang bersangkutan, Penulispun tanpa basa-basi menghentikan 50 mahasiswa yang lalu lalang di sekitar Penulis untuk kemudian meminta jawaban seputar Fashion mereka dari pertanyaan yang Penulis ajukan. Pertanyaannya kurang lebih begini.

“Apakah Anda seorang yang sangat memperhatikan fashion dalam bejalar?” Kemudian disusul pertanyaan “Seberapa seringkah Anda membeli pakaian, sepatu, tas dan hal-hal yang berhubungan dengan fashion dalam satu bulan?” dan pertanyaan yang terakhir adalah “Apa yang Anda lakukan ketika sudah memiliki pakaian, tas dan sepatu yang baru terhadap barang yang lama?”

80% dari 50 mahasiswa yang Penulis temui mereka menjawab dalam satu bulan ia bisa membeli

5 sampai 10 pakaian, 2 sampai 3 sepatu dan 1 tas. Kemudian untuk sisanya yakni 20% dari 50 tadi menjawab. Dalam satu bulan ia hanya bisa membeli 1 sampai 2 pakaian, sepatu tidak (dalam hal ini bahkan ada yang hanya membeli sepatu setiap pergantian semester baru), untuk pembelian tas juga sama tidak ada. Karena menurut kelompok kedua ini yang penting nyaman, Tilas tapi raos (Barang lama tidak apa-apa yang peting nyaman dipakai).

Hal ini bisa terjadi di golongan kedua karena faktor ekonomi yang kurang memadai alias pas-pasan. Bahkan ada salah seorang mahasiswa yang berkata kepada Penulis “Ah! da aku mah apa atuh! segini juga Uyuhan, masih di tangtayungan ku Allah.

Budaya Mahasiswa itu adalah seperti yang telah Penulis singgung di atas tidak lebih dari sekedar belajar, mengabdi di lingkungannya dan membaca segala realitas. Urgensi pengkolaborasian ilmu dengan realitas haruslah dilakukan sedari dini mungkin di lingkungan kampus dan kosan para mahasiswa. Kehadiran mereka sangat diharapkan oleh semua elemen masyarakat supaya dapat mengelolakan kembali segala regulasi-regulasi yang seharusnya dipakai dan dipedomani bukan dilanggar.

Membaca dan menulis di sebagian besar kalangan mahasiswa sudah tak diindahkan lagi, padahal dengan menulis ia mengukir namanya di Singgasana langit yang tinggi, menulis adalah untuk keabadian begitu tutur Penulis buku “Peradaban Sarung”. Menulis memang bukan hal yang mudah juga tidak sembarang orang bisa langsung rapih, indah dan bagus untuk dibaca, perlunya pembelajaran membaca secara intens dan membuka mind set yang luas. Menulis tidak seperti halnya meminta permintaan pada jin botol yang langsung berkata “Kuberi satu permintaan, Monggo? Namun, bukan berati menulis harus ditinggalkan karena adanya teknologi yang cukup dengan jepretan. Cissss, jepret Cisss jepert Cisss lagi. Kemudian jangan lupa nanti share di grup WA ya! ucap seorang mahasiswa, begitupun seterusnya yang terjadi di ruangan belenggu yang bernama Kelas.

Kembali ke persoalan Fashion di kalangan mahasiswa zaman now, dari jawaban di atas dapat disimpulkan sementara ini, bahwa banyak dari mereka yang menjadi donatur pencemaran di kali-kali, sungai juga laut yang secara tidak sadar mereka lakukan setiap tahunnya. Bila kita hitung secara matematis. 40 orang yang Penulis temui tadi dalam satu tahun mereka kurang lebih menyumbang 154 limbah industri fashion mereka, anggka tersebut bisa didapatkan bila 40 orang tadi dalam setiap bulannya membuang pakaian yang lama diganti dengan barang baru. Hitungan ini hanya berlaku jika pelakunya 40 orang tadi, kalau seratus dan seterusnya silahkan Anda hitung sendiri.

Sekali lagi Penulis katakan ini Wow! belum lagi pencemaran zat-zat berbahaya yang beredar di sungai-sungai pembuangan industri ini.

Teknologi hadir di satu sisi sebagai alternatif pemercepat kerja dalam kehidupan sehari-hari sekaligus di sisi yang lain juga adanya teknologi membuat manusia di muka bumi ini seakan di-nina bobokan. Berteman dengan banyak yang tidak ia kenal sedangkan dengan yang mereka kenal mereka ogah untuk sekedar bersapa apalagi berteman, sampai ngobrol seperti halnya saling komentar di medsos. Kesadaran ada karena dijemput bukan dinantikan. Perbaikan diri selalu dimulai dari hal sepele. Maka, jangan menyepelekan hal-hal yang dianggap sepele.

Perubahan memang terus dan akan berlangsung dengan akselerasi ekspotensial. Namun dengan perubahan tersebut kita jangan pernah menjadikan identitas-identitas luar berkembang sedangkan identitas sendiri terkubur bahkan dikubur dalam-dalam. Dalam istilah populer disebutkan, “Berpikir internasional bertindak lokal”. Kiranya salah satu adagium itu harus kita jaga dan amalkan dengan semestinya.