Menggali Sisi Sufistik dari Lirik Lagu “Satu” Milik Dewa 19

Sumber Gambar: Pxfuel.com

Pernah mendengar lirik berikut ?

“…Tak ada yang lain,

Selain dirimu

Yang selalu kupuja …”

Potongan lirik tersebut mungkin sudah tidak asing lagi di telinga anak sembilan puluhan dan anak dua ribuan. Lagu “Satu” ini ditulis oleh Ahmad Dhani, dan mulai dirilis tahun 2004 yang terhimpun dalam album Laskar Cinta.

Jika didengarkan sekilas, lagu ini seperti lagu-lagu asmara pada umumnya yang bercerita kerinduan seseorang kepada pasangannya. Tetapi jika kita bedah lebih dalam, ternyata lagu ini memiliki pesan tentang ketuhanan. Mungkin saat lagu ini pertama kali rilis, banyak yang tidak menyangka bahwa lagu ini merupakan lagu religi. Karena di sepanjang lagu, sang vokalis tidak sekali pun menyebutkan hal-hal yang berbau agama. Supaya bisa diresapi lebih dalam, kita akan mencoba membedah lagu “Satu” ini dari bait ke bait, tentu saja dari sudut pandang pendengar.

Aku ini adalah dirimu

Cinta ini adalah cintamu

Aku ini adalah dirimu

Jiwa ini adalah jiwamu

Rindu ini adalah rindumu

Darah ini adalah darahmu

 

Di mata orang awam, lirik di baris pertama nampaknya akan terasa kontroversi jika kita hubungkan lirik tersebut dengan Tuhan. Tetapi dalam ilmu Tasawuf, kalimat “Aku ini adalah dirimu” merupakan simbol kefanaan dari makhluknya Tuhan. Lirik tersebut seolah-olah berbicara bahwa kita ini (makhluk) hakikatnya berada dalam ketiadaan dan yang senantiasa ada itu hanyalah Allah. Lebih lanjutnya, lirik ini mengisyaratkan bahwa semua yang ada di alam semesta ini merupakan manifestasi dari keberadaan Allah. Termasuk hal-hal yang ada pada diri manusia, hakikatnya adalah milik Allah. Kemudian diperkuat oleh lirik selanjutnya yang mana lirik tersebut sudah masuk pada reff.

 

Tak ada yang lain

Selain dirimu

Yang selalu kupuja

 

Lirik pada reff lagu ini, jika dilihat dari sisi pemaknaannya, maknanya sangat sesuai dengan makna dari lafadz “Laa ilaaha Ilallah” yang berarti tidak ada Tuhan yang patut dipuja selain Allah. Reff tersebut belum selesai, dan dilanjutkan dengan bunyi lirik berikut :

 

Kusebut namamu

Di setiap hembusan nafasku

Kusebut namamu

Kusebut namamu

 

Lirik di atas seperti menceritakan seorang hamba yang senantiasa bergantung kepada Allah, yang senantiasa melibatkan Allah dalam setiap gerak langkah hidupnya. Lirik ini menjadi simbol kesetiaan seorang hamba terhadap Tuhannya.

 

Dengan tanganmu, aku menyentuh

Dengan kakimu, aku berjalan

Dengan matamu, ku memandang

Dengan telingamu ku mendengar

Dengan lidahmu, aku bicara

Dengan hatimu, aku merasa

 

Di lirik ini, penulis ingin menunjukan sisi ketawaduan dari seorang hamba kepada Tuhannya. Penulis menyebutkan bagian-bagian tubuh seperti tangan, kaki, mata, telinga, lidah hingga hati dan semua itu pada hakikatnya milik Allah. Jika lirik ini dipaparkan secara lugas, mungkin kurang lebihnya seperti ini :

 

Kita bisa menyentuh sesuatu, karena dititipkan tangan oleh Allah.

Kita bisa melangkah ke tempat yang dituju, karena dititipkan kaki oleh Allah

Kita bisa memandang sesuatu, karena dititipkan mata oleh Allah

Kita bisa mendengar sesuatu, karena dititipkan telinga oleh Allah

Kita bisa berbicara, karena dititipkan lidah oleh Allah

Dan kita bisa merasakan sedih, senang hingga bahagia, itu karena dititipkan hati oleh Allah

Jika semuanya hanya titipan, lantas apa yang bisa kita sombongkan ?

Kita punya apa ?

Seluruh lirik dari lagu ini bisa jadi renungan untuk kita semua, bahwa di dunia ini tidak ada yang patut kita sombongkan. Karena pada hakikatnya, semua yang ada pada diri kita sejatinya milik Allah dan akan kembali lagi kepada Allah. Satu lagi, yang membuat lagu ini hebat adalah kecerdasan si penulis dalam mengemas lirik menjadi lebih universal ditambah chord lagu yang benar-benar enak didengar.