Esai,  Headline,  Tokoh

Mengenal Nama Baru Jalan Layang Pasupati, Mochtar Kusumaatmadja Sang Diplomat Ulung

Fauzan Ibnu Hasby
Ilustrasi: Nyarita.com

Dalam sebuah unggahan instagram lewat akun pribadinya, Ridwan Kamil membuat postingan yang merupakan video rangkaian peresmian perubahan nama baru bagi jalan layang Pasupati (Pasteur-Surapati), di Bandung. Peresmian itu dilakukan pada tanggal 2 Maret 2021. Jembatan layang yang telah lama dinamai Pasupati sejak pertama diresmikan secara langsung oleh presiden Republik Indonesia yang ke-6, yakni Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2005 itu kini telah resmi berganti nama menjadi jalan layang Mochtar Kusumaatmadja. Berdasarkan penuturan gubernur Jawa Barat tersebut, hal ini dilakukan untuk mengenang jasa salah satu tokoh yang juga dianggap sebagai pahlawan nasional, yakni Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja.

Menyusul pergantian nama tersebut, Pemprov Jawa Barat juga telah mengajukan nama Prof. Mochtar sebagai salah satu pahlawan nasional. Pengajuan tersebut juga diakibatkan karena dia dianggap telah memberikan jasa besar bagi Republik Indonesia melalui diplomasinya di tingkat Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Jasa besarnya itu adalah melakukan diplomasi untuk mendapatkan persetujuan secara resmi dari PBB perihal Wawasan Nusantara yang diusung pula oleh salah satu tokoh pahlawan asal Jawa Barat, Ir. H. Djuanda pada Deklarasi Djuanda tahun 1957.

Perlu diketahui pula, Wawasan Nusantara ini merujuk pada cara pandang bangsa Indonesia terhadap diri dan lingkungannya sebagai sebuah entitas negara kepulauan dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan wilayahnya. Sebab dalam sejarahnya, pada zaman kolonial belanda, atau lebih tepatnya pada tahun 1939 melewati sebuah peraturan internasional kolonial menyatakan bahwa luas wilayah teritorial sebuah negara itu hanya ditentukan pada jarak 3 mil dari batas pantai. Akibatnya, hal ini membuat luas Indonesia pada saat itu dinyatakan hanya sekitar 2.027.087 km². Hal itu pula yang akhirnya membuat wilayah perairan atau lautan yang menghubungkan pulau-pulau di Indonesia dianggap menjadi wilayah perairan internasional. Dengan begitu, seluruh aktifitas apapun yang melewati wilayah tersebut dianggap sah-sah saja. Melihat hal tersebut, salah satu tokoh hebat asal Jawa Barat akhirnya membantu pelaksanaan diplomasi untuk memperjuangkan Wawasan Nusantara yang telah diusung oleh Djuanda pada pertemuan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Kepiawaiannya melakukan diplomasi, akhirnya membuahkan hasil. Membuat luas wilayah Indonesia naik dua setengah kali lipat menjadi 5.193.250 km² disetujui secara langsung oleh PBB pada tahun 1982. Dari sejarah inilah, seluruh masyarakat Jawa Barat, terkhusus Pemprov Jawa Barat merasa Prof. Mochtar Kusumaatmadja layak dinobatkan sebagai salah satu pahlawan nasional Indonesia dan diberikan sebuah penghargaan dengan ditulis sebagai salah satu nama jalan layang di Bandung.

Berangkat dari hal tersebut, perlulah pengulasan tentang sejarah dan beberapa hal yang merupakan buah dari pemikiran dan pergerakannya diketahui oleh masyarakat Indonesia untuk mengenang jasa para pahlawan, terkhusus bagi warga Jawa Barat.

Prof. Mochtar merupakan tokoh yang lahir di Batavia pada tanggal 17 Februari 1929. Jasa besar yang telah dilakukannya itu terjadi ketika dia menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Indonesia ke-12 menggantikan ‘Si Kancil’ Adam Malik, sebagai bagian dari kabinet yang tercantum pada era presiden Soeharto. Sebelumnya, beliau sempat menjabat sebagai Rektor Universitas Padjadjaran (UNPAD) pada tahun 1973-1974. Tak berlangsung lama, karena dianggap sebagai salah satu yang dibutuhkan oleh Soeharto kala itu, Prof. Mochtar akhirnya ditarik menjadi Menteri Kehakiman Indonesia dengan masa jabatan terhitung dari tanggal 22 Januari 1974–29 Maret 1978. Hal itu dilakukan Soeharto karena berangkat dari penglihatannya terhadap Prof. Mochtar yang dianggap layak memegang jabatan tersebut karena dia merupakan seorang akademisi sekaligus diplomat ulung.

Profesinya di bidang akademisi adalah saat dirinya menjadi guru besar di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung. Beliau juga terkenal sebagai pencetus teori “Hukum Pembangunan”. Dalam teori tersebut, sederhananya Prof. Mochtar memandang hukum sebagai keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah yang mengatur kehidupan masyarakat, termasuk di dalamnya lembaga dan proses untuk mewujudkan hukum itu ke dalam kenyataan. Karena konstruksi teori hukum yang diusungnya tersebut lahir dari pandangannya terhadap masyarakat Indonesia yang pluralistik dan berdasarkan Pancasila, hal itulah yang membuat teorinya tersebut dianggap sebagai teori hukum paling relevan dalam menginterpretasikannya pada saat ini. Tak hanya itu, berkat buah pemikirannya tersebut, teorinya ini banyak dianut oleh para akademisi serta praktisi hukum di Indonesia, juga menjadi salah satu prinsip yang dianut oleh Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung, atau yang lebih dikenal dengan mazhab UNPAD.

Tak hanya gemilang pada bidang akademisi saja, sebagai ahli hukum Prof. Mochtar dapat menunjukkan kepiawaiannya sebagai seorang diplomat ulung. Beliau memulai karier diplomasinya pada usia 29 tahun, setelah lulus menjadi sarjana S1 Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada tahun 1955. Pria yang telah memberikan jasa besar bagi wilayah teritorial Indonesia ini dikenal begitu piawai dalam mencairkan suasana dalam suatu perundingan yang serius dan bahkan menegangkan. Beliau dikenal begitu cepat dalam berpikir dan melontarkan kelakar untuk mencairkan suasana. Ternyata, bila dihubungkan, kecepatan berpikirnya dalam berkelakar itu didukung oleh kesukaannya terhadap permainan catur.

Lewat modal besar yang dimilikinya inilah yang membuat beliau akhirnya berhasil melakukan diplomasi internasional dan membawa luas wilayah teritorial yang lebih luas bagi Indonesia. Sebab di tahun 1958-1961, Prof. Mochtar telah mewakili Indonesia pada Konferensi Hukum Laut di Jenewa, Colombo, dan Tokyo. Sebelumnya, beliau juga banyak berperan dalam perundingan internasional sebagai salah satu yang mewakili Indonesia.

Selain itu, sebagai akademisi, Prof. Mochtar juga tak sedikit melahirkan banyak karya tulis. Beberapa karya tulisnya itu diantaranya adalah Rights Over Natural Resources: The Indonesian Experience, Perlindungan dan Pelestarian Lingkungan Laut: dilihat dari sudut hukum internasional, regional, dan nasional, Pengantar Hukum Internasional, dan masih banyak yang lainnya. Akibat dari karya tulisnya inilah akhirnya mengilhami lahirnya Undang-Undang Landas Kontinen Indonesia tahun 1970.

Sebagai seorang yang begitu pintar, jenjang pendidikannya tak berakhir hanya pada jenjang strata satu saja. Setelah lulus dari S1, Prof. Mochtar melanjutkan pendidikannya di Sekolah Tinggi Hukum Yale (Universitas Yale), Amerika Serikat pada tahun 1955. Setelah itu, kemudian dia melanjutkan kembali program doktor S3 bidang ilmu hukum internasional di Universitas Padjadjaran pada tahun 1962.

Melihat kegemilangan karirnya sebagai seorang akademisi, dosen, politisi, serta diplomat, tak serta merta membuat perjalanan hidupnya begitu mulus. Prof. Mochtar pernah merasakan pencopotan gelar sebagai guru besar UNPAD pada tahun 1962. Pencopotan itu dilakukan oleh Presiden Soekarno menyusul datangnya kritik yang dilontarkan oleh Prof. Mochtar yang tengah menjadi guru besar UNPAD saat itu, kritikannya adalah mengenai Manifesto Politik Soekarno. Sebab ternyata, sejak mahasiswa dia memang merupakan orang yang begitu kritis yang ditimbulkan karena ketajaman dan kecepatan berpikirnya.

Pemecatannya saat itu tak menjadikannya menyerah begitu saja. Sebagai seseorang yang begitu hebat dan segera dinobatkan menjadi pahlawan nasional itu dengan santainya akhirnya menjadikan pemecatannya itu menjadi sebuah kesempatan untuknya menimba ilmu di Harvard Law School (Universitas Harvard), dan Trade of Development Research Fellowship di Universitas Chicago di tahun 1964-1966.

Sebagai seseorang yang terkenal begitu cerdik yang membuatnya dianggap layak menggantikan ‘Si Kancil’ Adam Malik menjadikannya sebagai seorang perdana menteri yang begitu menyukai permainan catur. Bahkan dalam kariernya, beliau pernah diangkat sebagai Ketua Umum Persatuan Catur Indonesia (PERCASI) pada tahun 1985.

Peninggalannya pada bidang hukum di Indonesia bukan hanya karya tulis, atau Undang-Undang Kontinen saja, tapi juga dirinya mendirikan sebuah kantor hukum dengan namanya beserta beberapa rekannya, yakni Mochtar-Karuwin-Komar (MKK).

Pria dengan jasa besar untuk wilayah teritorial yang lebih luas bagi Indonesia ini akhirnya mengakhiri hidupnya pada tahun 6 Juni 2021 (tahun lalu). Setelah wafatnya inilah, banyak tokoh yang juga mendukung dirinya untuk dinobatkan sebagai salah satu pahlawan nasional Indonesia.