Caritaan,  Headline

Langkah Dunia Pendidikan Pasca Pandemi

Umar Ma'ruf
Sumber: Suarainqilabi.com

Berawal dari Desember 2019 terdapat laporan pertama wabah Covid-19 yang berasal dari sekelompok kasus pneumonia manusia di Kota Wuhan, gejala dari pasien yang terjangkit meliputi demam, malaise, batuk kering, dan dispnea yang didiagnosis sebagai gejala infeksi virus pneumonia. Hingga awalnya penyakit tersebut disebut pneumonia Wuhan oleh pers karena gejala yang muncul serupa dengan pneumonia.

Kemudian, muncul hasil sekuensing genom yang menunjukkan bahwa agen penyebabnya adalah coronavirus baru, hingga pada 12 Januari 2020 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk sementara menamai virus baru ini dengan nama novel coronavirus (2019-nCoV). Hingga akhirnya pada 12 Februari 2020 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi mengubahnya menjadi penyakit coronavirus 2019 (COVID-19).

Di Indonesia, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebutkan ada 2 warga negara Indonesia (WNI) yang positif terjangkit virus corona pada 2 Maret 2020. Keduanya merupakan warga Depok, Jawa Barat dan akhirnya setelah itu penyebaran virus tersebut begitu cepat hingga angka jumlah warga Indonesia yang terjangkit virus tersebut terus naik. Hingga akhirnya presiden mengeluarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No 12 Tahun 2020 tentang Penetapan Bencana Non Alam Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid 19) Sebagai Bencana Nasional. Dalam surat keputusan tersebut salah satunya berisi keputusan agar membangun sinergitas antar kementerian/lembaga dan pemerintah daerah.

Lalu SK presiden tersebut direspon oleh semua kementrian/lembaga hingga pemerintah daerah, termasuk oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang mengeluarkan SE No 4 Tahun 2020 Tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran Coronavirus Disease (Covid 19). Dalam SE tersebut salah satunya berisi intruksi untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) menggunakan cara daring/online.

Tidak hanya direspon oleh Kemendikbud, Kementerian Agama pun melalui Direktur Jenderal Pendidikan Islam merespon dengan salah satunya mengeluarkan SE Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 657/03/2020 Tentang Upaya Pencegahan Penyebaran Covid-19 (Corona) di Lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam. Dalam SE tersebut salah satunya berbunyi “Proses perkuliahan hingga akhir semester genap tahun akademik 2019/2020 pada setiap Perguruan Tinggi Keagamaan Islam baik negeri maupun swasta sepenuhnya dilakukan dalam jaringan (online).”

Hingga akhirnya, mekanisme pembelajaran pada saat masa pandemi di Indonesia dilakukan secara online atau dalam jaringan (daring), hal tersebut terjadi dari mulai lembaga pendidikan anak (TK/PAUD) hingga perguruan tinggi. Hingga hal tersebut menimbulkan 2 efek, tentunya efek positif dan efek negatif. Efek positif dari pembelajaran dalam jaringan secara umum tentunya dimasa ini muncul berbagai inovasi dan kreatifitas, dimana saat masa-masa sulit ini muncul cara-cara baru yang digunakan sebagai media untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar tanpa tatap muka, selain itu secara spesifiknya dimana pembelajaran dalam jaringan ini membuat siswa dapat belajar dari mana saja, siswa juga dapat belajar kapan saja, muncul juga interaksi yang dinamis antara guru dan siswa, kemudian siswa juga mendapatkan kemudahan mengakses sumber pembelajaran, dan masih banyak lagi dampak positif pembelajaran daring yang tidak bisa penulis sebutkan semuanya.

Namun, selain memiliki efek positif yang segunung, terdapat juga efek negatif pembelajaran daring yang selangit, efek negatif pembelajaran daring secara umum dimana ada sebuah masa kerap kita sebut sebagai masa transisi yaitu masa peralihan kehidupan seperti biasanya yang selalu dilakukan secara tatap muka atau langsung, kemudian di masa pandemi semuanya dilakukan secara jarak jauh dengan menggunakan media dalam jaringan, dan dimana saat masa transisi ini terdapat kurangnya prepare menghadapi kehidupan yang baru.

Hingga akhirnya semua inovasi dan kreatifitas yang muncul kurang dapat diaplikasikan secara optimal, selain itu secara spesifiknya dimana pembelajaran dalam jaringan ini menyebabkan penurunan kesehatan mental dan psikis siswa, meningkatnya angka putus sekolah, hubungan siswa dengan guru menjadi dingin, keterbatasan sarana pendukung, hingga banyak siswa yang mengalami kesulitan menyerap mata pelajaran dengan baik dan masih banyak lagi dampak negatif pembelajaran daring yang tidak bisa penulis sebutkan semuanya.

Hal tersebut menjadikan turunnya kualitas pendidikan di Indonesia secara drastis, hal tersebut dilihat dari faktor siswa dan guru, dimana siswa mengalami penurunan kualitas sebab tidak bisa menyerap mata pelajaran dengan baik dan dari guru sendiri tidak mampu optimal dalam menyampaikan pelajaran, salah satu sebabnya karena banyak guru atau tenaga pengajar yang gagap akan teknologi atau biasa disebut dengan gaptek.

Seiring berjalannya waktu, dengan penuh lika-liku, dan jatuh bangun bangsa kita menghadapi pandemi, hingga pada akhirnya sampai pada masa pemulihan dimana dalam masa ini mulai terurainya pandemi di Indonesia, perlahan semua kembali pulih, hingga sampai pada tahun 2022 ini kita bisa merasakan agak lega pandemi bisa dikatakan telah usai.

Kemudian, masa ini bisa dikatakan adalah masa transisi, seperti yang saya tulis di atas masa transisi merupakan masa peralihan, dimana di tahun 2022 merupakan masa peralihan dari masa pandemi ke masa normal, satu persatu aspek kehidupan mulai kembali normal, satu persatu sektor kehidupan kembali dipulihkan.

Tentunya berdasarakan catatan-catatan yang penulis sudah uraikan diatas bahwa pandemi ini melumpuhkan banyak sektor, termasuk sektor pendidikan, layaknya sektor-sektor lainnya pendidikan juga harus dipulihkan dengan seksama, bukan hanya sektor ekonomi, industri dan semacamnya yang santer dipulihkan, tapi sektor pendidikan juga harus serius dipulihkan dengan seksama, perlu adanya riset yang matang untuk membaca, mengetahui, dan memahami secara detail apa saja dampak yang ditimbulkan, kemudian perlunya diskusi duduk bersama dengan berbagai ahli untuk saling bertukar pikiran dan mendapatkan berbagai perspektif, tentunya sebagai modal utama untuk melakukan prepare kembali menghadapi masa normal setelah beberapa tahun terakhir kita terpuruk karena pandemi, dalam prepare ini tentunya haruslah memiliki sebuah strategi matang sebagai modal melangkah untuk kembali memulihkan dunia pendidikan, tentunya mampu juga sebagai solusi menuntaskan masalah-masalah pendidikan yang menjadi sebab lumpuhnya dunia pendidikan.

Penulis harap dengan adanya uraian singkat yang jauh dari kata sempurna ini mampu menjadi amunisi bagi para pembaca agar ikut bersama memulihkan dunia pendidikan pasca pandemi, dan khususnya bagi pemerintah selaku pemangku kebijakan yang berwenang agar mampu menyusun strategi jitu untuk memulihkan dunia pendidikan di Indonesia, mengingat bahwa pendidikan merupakan aspek yang sangat penting bagi kemajuan sebuah bangsa, sebab salah satu indikator kemajuan suatu bangsa adalah tingginya kualitas sumber daya manusia (SDM), tinggi atau rendahnya kualitas SDM  dapat dilihat seberapa tinggi kualitas pendidikan di sebuah bangsa, penulis rasa jika dunia pendidikan tidak segera dipulihkan secara serius kemerosotan kemajuan di negeri yang kita cintai akan terjadi secara perlahan.