Esai,  Sosial Budaya

Kelamin dan Peradaban

Dafa Alhafidz
Latest posts by Dafa Alhafidz (see all)

 

Sumber: Nasional.news

Manusia hidup di muka bumi menapaki peradaban. Ada banyak teori yang menyatakan tentang asal muasal manusia menempati planet bumi. Hingga sampai sekarang yang masih selalu di perdebatkan tentang Teori Tuhan yang tersirat dalam kitab suci-Nya dan Teori Makhluk yang di benarkan oleh kekuatan sains. Akan tetapi, itu merupakan cikal bakal dan menjadi dasar terjadinya kehidupan di muka bumi ini. Bahkan, ada yang lebih penting dan menjadi sasaran utama akan keberlanjutan kehidupan yaitu kelamin & peradaban.

Jalinan hubungan yang romantis dan selalu menjadi pemicu tragedi di dunia ini masih di pertanyakan kemurniannya,  bahwa apakah kelamin menjadi pemicu utama jatuhnya peradaban atau menjadi modal majunya peradaban. Mari kita berbincang dengan segala kemampuan yang diberikan Tuhan. Laa hawla wa laa quwwata Illa Billah

Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) menyatakan bahwa Kelamin yaitu alat pada tubuh manusia, binatang dan sebagainya untuk mengadakan keturunan. Sedangkan, menurut Hungu (2007) kelamin adalah perbedaan antara perempuan dengan laki-laki secara biologis sejak seseorang lahir. Tapi, jika ditarik dari segi keberadaannya, bahwa kelamin yaitu suatu anugerah yang diberikan Tuhan kepada makhluk-Nya untuk merasakan salah satu nikmat-Nya. Tentunya bukan berakhir sampai disitu saja. Ada misi besar yang tersimpan di balik diciptakannya kelamin.

Secara aksiologis kita menamai kelamin hanya sebagai pembeda antara makhluk Tuhan seperti Pria & Wanita, Jantan & Betina.  Namun jika kita berpikir dengan ranah Ontologis bahwa kenapa Tuhan menciptakan kelamin, tentunya bukan tanpa alasan yang sepele.

Coba kita lihat keberadaannya, keharusannya ditutupi dan dijaga dari bukan haknya menandakan kesuciannya, bahwa tidak boleh sembarang makhluk yang bebas melihatnya. Bahkan, itu bisa menjadi hadiah yang ditunggu-tunggu oleh pasangan suami istri yang sah untuk meratapi dan mengekspresikan nikmat Tuhan. Lalu apa kaitannya dengan kemajuan dan kemunduran peradaban yang menjadi pemicu utama keberlanjutan kehidupan.

Merujuk pada kisah Nabi Yusuf  saat di fitnah oleh istri Al-Aziz, namun Tuhan menyelamatkan dan melindunginya. Atau pada kisah Sufyan Ats-tsauri pernah berkata “silakan kau suruh aku menjaga rumah mewah penuh harta, namun jangan kau suruh aku menjaga wanita yang tidak halal bagiku meskipun berupa budak yang hitam legam”.

Dalam kisah di atas sangat mendiskriminasikan wanita, bagaimana kalau kita ubah mindset kita bahwa penyebab utama yaitu kelamin. Kelamin, membutakan kita dan jika kekuatan iman kita lemah, maka sedikit demi sedikit kita akan masuk perangkapnya. Itu selaras dengan kisah seorang rakyat dan mahasiswi jurusan tasawuf.

Suatu ketika, dua orang sedang membeli es campur di pinggir jalan, tak lama kemudian datang seorang mahasiswi bermaksud membeli es campur dengan mengenakan pakaian rok mini, baju rajut, dan tidak berkerudung. Sontak, dua pria tadi melihat atas bawah kepada mahasiswi tersebut.

Merasa di perlakukan tidak senonoh, mahasiswi tersebut membentak “kenapa liatin terus?”  dengan nada lirih dua pria menjawab, “Engga kak.” Namun, dengan keilmiahan mahasiswi tersebut menjawab “Mengutip dari Henry Miller dia pernah berkata, ‘Vagina hanyalah suatu celah sepele di antara dua paha perempuan. Sungguh ia ilusi, segala rahasia seks yang kamu bayangkan sebenarnya hanya ruang kosong. Tidak ada apa apa di dalamnya, sama sekali tidak ada apa apa’.” dengan nada sinis mahasiswi pergi meninggalkan dua pria tersebut.

Lagi-lagi meskipun lelaki ditakdirkan memiliki akal yang kuat, namun di hadapan kelamin akal itu menciut dan merusaknya. Mungkin itu penyebab kemunduran peradaban, karena kita terlalu fokus kepada apa yang membuat hasrat kita puas sehingga melupakan alam semesta, kehidupan, serta sosial. Kita selalu melakukan berbagai cara demi melunaskan hasrat, bahkan tidak sedikit yang rela bunuh diri hanya karena urusan kelamin. Akan tetapi, kelamin juga membawa peradaban semakin maju. Mari kita bahas.

Merujuk pada kisah seorang lelaki dan perempuan yang sudah bertunangan berdiam diri di rumah. Dengan segala bisikan hangat, lelaki mulai menggoda dan merayu wanita. Akan tetapi, dengan nada menolak perempuan tersebut sedikit menjauh darinya. Lalu dengan kecerdikan akal lelaki, ia berkata “ Sama saja, kita kan sekarang sudah tunangan.” Dengan jawaban penuh religi perempuan itu menjawab, “Beda, sekarang belum diridhai Tuhan, kalau nanti diridhai Tuhan, harus takut pada Tuhan.”

Kalimat terakhir yang dilontarkan perempuan tersebut membuat lelaki terenyah dan beranjak pergi meninggalkan rumah. Itu menandakan bahwa wanita pun berperan penting dalam membangun peradaban, tidak hanya serta merta di perolok sebagai godaan lanataran kelamin yang tersimpan misterius di dalamnya. Tak hanya itu, terdapat juga kisah yang tersirat dalam kitab-kitab ulama tentang seorang ‘alim yang ditinggal istri tercantik yang pernah ia miliki.

Suatu ketika, seorang ‘alim memiliki istri yang cantik nan rupawan sekampung tersebut. Namun, Tuhan menjemput perempuan tersebut ke hadapan-Nya. Sontak dengan segala ketakutan, sang ‘alim malah memilih mengurung diri di dalam rumahnya lantaran ditinggalkan oleh sang istri tercinta. Padahal, ia sangat dibutuhkan oleh warga setempat akan keilmuannya.

Lalu pada satu waktu, ada seorang wanita yang hendak berbicara meminta fatwa kepada sang ‘alim. Namun, wanita tersebut di perolok bahwa sang ‘alim sudah tidak mau bertemu manusia dan sudah tidak mengajar lagi. Akan tetapi, wanita tersebut bersikukuh ingin bertemu dengan sang ‘alim. Dipertemukanlah mereka berdua, dan sang ‘alim memperkenankan ia masuk dan berbincang dengannya. “Hei wanita, ada apa gerangan anda menemuiku” tanya sang ‘alim. “Aku hendak meminta fatwa padamu” jawab wanita. “aku mempunyai barang, namun barang itu hasil titipan seorang saudagar kaya, karena ia merasa aku ada jasa padanya. Namun, suatu ketika setelah sekian lamanya, saudagar tersebut mengambil kembali barang yang ia titipkan padaku. Sontak aku pun tidak rela, dan menangisinya karena barang itu sudah ku anggap sebagai pribadi.

Dalam kasus itu, bagaimana menurutmu wahai ‘alim. Dengan nada santai nan tegas, sang alim menjawab, “Kamu harus sabar dan rela akan barang yang dititipkan bukan hakmu diambil kembali. Karena bagaimanapun juga itu adalah titipan”. Namun, dengan nada tegas wanita kembali menjawab, “seperti itulah wanita yang Tuhan titipkan untukmu menjadi istri. Ia adalah milik Tuhan dan kepada-Nya juga ia akan kembali. Lantas kenapa kamu menangisi dan memilih tidak rela ditinggalkannya, dan juga lebih memilih mengurung diri. Padahal, di luaran sana masih banyak orang yang membtuhkan fatwamu. Maka dari itu, sadarlah”.

Dengan mata yang berlinang dan tangis yang terbendung, sang ‘alim terenyah sadar dan berterima kasih kepada perempuan tersebut karena telah mencoba menyadarkannya.

Begitulah mungkin sudut pandang yang akan membawa peradaban lebih maju. Tidak sedikit juga wanita yang namanya agung dikenang. Seperti Maryam, Siti Rabi’ah Al-Adawiyah, Nusayba bin Ka’ab Al-ansariyah, Fatima Al-Fihri, Sultan Raziyya, Anousheh Ansari, Rufaidah binti Sa’ad.

Tak hanya itu, dari belahan dunia lainnya juga seperti Hypatia of Alexandria, Hannah Arendt, Phillippa Foot, G.E.M Anscombe, Mary Wollstonecraft, Anne Dufoutmantelle, Harriet Taylor Mill, Kathryn Gines, dan Carol Gilligan.

Kelamin selalu menjadi misteri bagi siapapun, terkhusus bagi kaum lelaki yang tidak sedikit tergoda dan bermain dengannya. Akan tetapi, kelamin  juga bisa membawa peradaban menjadi lebih maju jika pemilik kelamin menyadari fungsi dan peranannya masing-masing di dunia ini.

Para Nabi, Tuhan takdirkan lelaki untuk mendapat gelar agung tersebut. Dan Tuhan takdirkan wanita sebagai penyangga pundak lelaki supaya lelaki bisa menyadari ciptaan Tuhan yang paling indah. Makanya, kata Nabi Muhammad “Wanita itu perhiasan dunia, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah Wanita salihah.” Bahkan, seolah Nabi pun berpesan bahwa untuk kaum wanita jadilah wanita salihah, dengan kesalihanmu nanti kau akan banyak dicari, menjadi perhiasan yang tidak sembarang orang mendapatkannya. Dengan itu, harkat dan martabatmu terjaga.

Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu an laa ilaaha illa anta, astagfiruka wa atuubu ilaika.