Headline,  Sosial Budaya

Indonesia Harus Serius Kembangkan Kemampuan Teknologi

Ilustrasi

Indonesia pada orde baru sangat gencar menggalakan pembangunan-pembangunan dan pemerataan penduduk. Pada saat itu perkembangan teknologi tidak sepesat saat ini. Arus media informasi tidak sebanyak sekarang. Jika pemerintahannya ekstraktif cendrung perkembangan suatu negara atau SDM nya tidak akan berkembang dengan pesat. Berbeda dengan kondisi saat ini dimana era keterbukaan menjadi panglima dari sebuah negara demokrasi. Pada 19 September 2013 beberapa produsen meluncurkan mobil murah dan ramah lingkungan, akhirnya kebijakan itupun menuai polemik, salah satunya, mobil murah hanya akan memperparah kemacetan. Kebijakan mobil murah dan ramah lingkungan, dengan pemberian keringanan pajak, diatur dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 33/M-IND /PER/7/2013. Maksud dibuatnya Permenperin dimaksudkan untuk mendorong dan mengembangkan kemandirian industri otomotif khusunya industri kendaraan bermotor roda empat. Pengembangan dari bidang industri otomotif juga dulu pernah di besut oleh Tommy Soeharto dengan mengembangkan mobil Timor dengan banderol harga murah saja menuai pro-kontra dan akhirnya mobil Timor itu pun kalah dipasaran dengan mobil-mobil dari Jepang dan Eropa. Pemerintah kita seolah tidak pernah serius dalam memajukan industri otomotif dan industri lainnya, kita seolah gagap dalam menghadapi tantangan global. Padahal Indonesia sebagai negara berkembang perlu mengembangkan kemampuan teknologi industri karena dimensi baru persaingan internasional yang meliputi total quality control, just in tima, flexible manufacturing practices, after sales, adovting consumer behaviour, desain, marketing, distribution network. Dalam wilayah strategi perlu kita perhatikan mengenai mutu dan desain produk, local content, high tech and high value products. Dan selain itu sebagai pendalaman struktur industri. Produksi-produksi karya anak bangsa perlu di dukung oleh pemerintah tidak cukup hanya memberikan penghargaan berbentuk sertifikat tetapi pemerintah harus mampu mengembangkan karya-karya anak bangsa itu seperti mobil ESEMKA, Pembuatan helikopter di Sukabumi dan lain sebagainya. Jika kreativitas anak bangsa ini tidak didukung oleh pemerintah tidak akan mampu berkembang menjadi industri yang layak bersaing ditingkat global.
Faktor pokok sangat menentukan kemampuan teknologi nasional yaitu mengenai sistem insentif seperti kebijaksanaan makro-ekonomi, kebijakan niaga seperti mengurangi anti-ekport bias, menyederhanakan prosedur perizinan, dari sisi finansial mampu mengendalikan intervensi, dan kebijakan domestik. Selain pengembangan industri otomotif juga perlu dikembangkan industri migas kita, kita jangan sampai terus-terusan menjual minyak mentah kita ke luar negeri karena alasan keterbatasan kilang minyak kita. Contohlah seperti Singapura negara yang penduduknya sama dengan jumlah penduduk Jakarta tetapi memiliki kilang minyak yang banyak, sementara Indonesia hanya mengandalkan kilang minyak yang ada di Balongan saja. Ada berapa puluh perguruan tinggi migas di indonesia yang tiap tahunnya meluluskan sarjana-sarjana tetapi dunia teknologi migas kita masih berjalan ditempat. Indonesia meski belum mampu mengekspor BBM keluar negeri, setidaknya kita mampu mengolah sendiri minyak mentah kita untuk mencukupi konsumsi dalam negeri.
Pemerintah Indonesia seperti kekurangan inovasi dan riset teknologi atau memang masalahnya ada pada rakyat yang malas berpikir. Bangsa kita selalu mempermasalahkan hal-hal yang menurut saya tidak perlu, seperti perlu kah khilafah di tegakan di Indonesia dan isu-isu lainnya, menurut saya jika kita slalu berkutat pada persoalan itu kita akan semakin mundur. Karena bangsa lain telah berpikir bagaimana caranya tinggal di planet Mars. Indonesia cenderung menjadi konsumen. Selain itu persoalan riset juga kita masih sangat kurang salah satu faktor penyebabnya adalah minimnya dana yang tersedia. Riset dan inovasi membutuhkan dana yang tidak sedikit, terlebih lagi riset terkait teknologi tinggi. Pemerintah cenderung enggan untuk mengeluarkan banyak dana untuk riset.
Pada tahun 2013 saja pemerintah hanya 0,085% dari PDB untuk riset, sedangkan negara tetangga Singapura menganggarkan 2% dari PDB. Dampaknya terlihat sangat mencolok jika kita melihat data perbandingan jumlah paten, jumlah publikasi internasional. Hal tersebut karena outputdari berbagai riset yang dihasilkan masih kurang berdampak. Untuk mengatasi hal ini, sebenarnya pemerintah dapat bekerja sama dengan pihak swasta. Metode tersebut digunakan pada banyak penelitian di Amerika Serikat, perusahaan teknologi seperti Google, IBM, Microsoft menganggarkan sebagian dana untuk melakukan penelitian teknologi terbaru.
Jika kita perhatikan secara seksama, Tiongkok merupakan negara yang lebih muda dari Indonesia. Namun, negara yang merdeka pada tahun 1949 tersebut sudah menjadi pusat manufaktur teknologi dunia. Bahkan saat ini teknologi mereka mulai masuk ke Indonesia, sebut saja merek-merek seperti Oppo, Vivo, Xiaomi yang sudah tidak asing. Tidak hanya itu, Tiongkok bahkan sudah berhasil mengirimkan manusia ke luar angkasa pada tahun 2013.
Perkembangan teknologi di Tiongkok dapat dikatakan cukup cepat, pada tahun 1980-an negara tersebut bukanlah siapa-siapa di Asia. Namun Tiongkok berhasil bangkit setelah membuka negaranya untuk perusahaan asing. Mereka mengharuskan perusahaan asing tersebut untuk bekerjasama dengan perusahaan lokal. Tidak hanya itu, mereka juga harus mau melakukan transfer teknologi kepada para teknisi Tiongkok. Semua dokumen teknis hingga rancangan desain harus disimpan di Tiongkok. Inilah spirit Tiongkok, tak cuma mau menjadi pasar bagi produk-produk asing, mereka hendak menciptakan segala-galanya secara mandiri.
Contoh konkretnya dapat dilihat pada pengembangan teknologi kereta cepat di Tiongkok. Pada tahun 2004 mereka mengundang 4 perusahaan asing untuk mengembangkan proyek kereta cepat. Keempat perusahaan tersebut (Alstom dari Perancis, Siemens dan Bombardier Transportation dari Jerman, serta Kawasaki dari Jepang) membentuk perusahaan patungan dengan Sifang Locomotive & Rolling Stock, sebuah perusahaan lokal.
Sebagian besar kereta dibuat di luar namun dirakit di Tiongkok. Pada akhirnya, saat ini Tiongkok memiliki jaringan rel kereta cepat terpanjang di dunia dan sudah mulai membangun kereta cepat dengan teknologinya sendiri ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Hanya dalam kurang dari 20 tahun Tiongkok berhasil mempelajari dan menguasai teknologi kereta cepat.
Metode alih teknologi yang diterapkan oleh Tiongkok, dapat diterapkan juga di Indonesia di berbagai industri lain seperti pembuatan prosesor, smartphone, hingga roket luar angkasa. Metode amati, tiru, modifikasi (ATM) tersebut merupakan jalur pintas untuk menguasi teknologi dengan cepat. Adanya keterlibatan teknisi lokal juga membuat SDM di Indonesia menjadi lebih kompeten untuk mengani berbagai macam teknologi yang relatif baru. Sehingga akan ada semakin banyak orang Indonesia yang menguasai teknologi terbaru di dunia, teknologi yang masih jarang dimiliki negara lain. Pemerintah Indonesia dan para steakholder harus sinergis dan kebijakan-kebijakan pemerintah indonesia harus ramah terhadap investasi. Beberapa cara untuk mengimpor atau mengalihkan teknologi asing ke negara berkembang khususnya Indonesia harus diperhatikan seperti PMA, persetujuan lisensi teknis, proyek ‘putar kunci’, pembelian barang modal, pembelian bantuan teknis, original equipment manufacturing, pembelian (akuisisi) perusahan di negara-negara maju dan membangun kemitraan strategis.