Cerpen,  Sastra

Harry-Harry Mondok

Latest posts by Fatimah Sumardi (see all)
Sumber: Kompas.com

“Kamu yakin nak dengan keputusan ini?” Tanya Lily pada anak sulungnya dengan wajah sendu juga terharu, sambil memegang kedua bahunya.

“Aku yakin, Ibu. Tekadku sudah bulat” katanya dengan penuh keyakinan, wajahnya tersenyum penuh semangat.

“Ibu takut… Takut merindukanmu” ucapnya dengan sedikit berkaca-kaca kemudian membawa Harry pada pelukannya. Lalu, menangis di sana dan memeluknya erat.

“Tapi Ibu bahagia mendengarnya.. hiks.. hiks..” lanjut dengan air mata membanjiri pipinya.

“Aku sudah besar, jangan khawatirkan aku. Aku pasti baik-baik saja. Aku juga pasti merindukanmu, Bu” ucap Harry dengan lembut dan meyakinkan Ibunya bahwa ia anak yang kuat.

***

“Huahhhh..”

Harry menguap lebar-lebar sambil mendudukan badan dari tidurnya. Ia langsung menghadap cermin yang tepat berada di sebelah kirinya yang menggantung di pintu lemari pakaiannya. Ia meraba-raba wajahnya, lalu ke matanya, ‘sembab’ katanya dalam hati. Ia lupa semalam  mendrama dengan Ibunya, bermain air mata tepatnya. Kemudian, kakinya melangkah ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Lalu, bersiap-siap ke bawah menemui orang tuanya.

Terlihat Ibunya sedang memasak makanan untuk sarapan pagi ini. Ayahnya, James sedang membaca koran di meja makan. Ia melangkah dan duduk di kursi seberang Ayahnya yang wajahnya tertutupi koran yang dibuka lebar.

“Pagi Ayah, Pagi Bu!” Sapanya sambil mengucek kedua matanya.

Ibunya menoleh dan tersenyum “Pagi sayang”

“Ouw! Pagi Harry, sudah siap?” Sahut Ayahnya dengan menurunkan koran dari depan wajanya. Eksresinya datar, lalu tersenyum manis.

“Huahhh… Tentu saja Ayah, aku selalu siap” katanya sambil menguap, lalu menyimpan kepalanya di atas meja makan menghadap Ibunya yang sedang berjalan ke arahnya.

“Kalau begitu, segeralah siap-siap, Nak!” Perintah Lily sambil mengacak-acak rambut anaknya yang menggemaskan.

Harry, lengkapnya Harry Potter merupakan anak sulung dari James Potter dan Lily Potter. Ia berusia 9 tahun. Mereka tinggal di perumahan, tepatnya di jalan Private Drive, Inggris. Kedua orang tuanya akan mengantar anaknya ke sekolah terbaik di London yang jaraknya lumayan jauh, bahkan tak pernah terlintas di pikiran mereka. Dan ini merupakan permintaan Harry sendiri bukan kehendak orang lain atau orang tuanya. Betapa bahagianya Lily dan James saat mendengar keputusan anaknya.

Kini, Harry sudah siap dengan tas di punggungnya juga satu koper yang ia seret dari atas melalui tangga hingga menghasilkan bunyi ‘Bug’ ketika koper itu menyentuh setiap anak tangganya. Ibunya sudah siap dengan berbagai makanan yang akan dibawanya. Ayahnya sudah di luar memeriksa mobil dan lainnya. Lalu, kembali ke dalam rumah untuk membantu Harry membawa koper dan memasukannya ke dalam bagasi, diikuti Harry masuk dan duduk di jok belakang. Kemudian, Ibunya datang dengan menenteng tas makanan di tangan kananya dengan sedikit tergesa. James menghampiri membantu membawakan. Lalu, keduanya masuk mobil demgan James sebagai supirnya, dan Lily di sampingnya.

“Sudah siap?” Lily menoleh ke belakang sambil memamerkan giginya yang rapi. Harry mengangguk pasti. Lalu, tersenyum.

Pukul 8.00 pagi. Perjalanan menuju stasiun kereta London lumayan jauh, menghabiskan sedikitnya satu jam kalau tidak macet. Namun, untungnya bukan Jakarta. London tak seramai itu, jadi bisa sampai lebih cepat.

Tujuan mereka adalah mengantar Harry ke sekolah terbaik di London pada saat ini, dimana di sana disediakan asrama juga fasilitas yang lengkap untuk menunjang perkembangan anaknya. Sudah sangat dipertimbangkan jauh-jauh hari oleh orang tuanya. Awalnya tidak mengizinkan karena aturannya harus tinggal. Namun, Harry meyakinkan kadua orang tuanya bahwa tekad ia sudah bulat.

Bukan karena fasilitas yang mereka kejar. Namun, kualitas pendidikan yang lebih mumpuni yang mereka harapkan. Juga karena tingkat keagamaan yang sangat seimbang dengan program-program yang sesuai dengan harapan mereka.

***

Mobil melaju dengan santai, tiba-tiba mobil berhenti. James turun dari mobil. Kemudian, mendapati ban depannya pecah. Raut wajahnya berubah cemas, takut-takut tak dapat mengantarkan Harry. Sedangkan waktu menunjukkan pukul 8.35 am. Dan gerbang menuju sekolah itu akan ditutup pada pukul 9.00 am. Belum lagi harus naik kereta di peron 9 3/4. Lily ikut keluar melihat kedaan. Harry pun membukakan kaca jendelanya dan memperlihatkan kepalanya.

“Ada masalah apa, Ayah?” Tanya Harry dengan santai. James tak menjawab. Raut wajahnya seolah menjaskan kurang lebih seperti, ‘maafkan Ayah, karena Ayah kamu jadi terlambat’.

Lily tak berkomentar, ia sibuk memainkan handphone nya mencari bantuan kepada temannya. Ketiganya kebingungan, tak ada tambal ban di tengah jalan yang cukup sepi seperti ini. Yang ada hanya kebun dengan pohon-pohon tinggi menjulang ke atas. Tak juga ban serep mereka bawa. Karena James sudah merasa yakin saat memeriksanya tadi, semua akan baik-baik saja. Namun, ternyata Allah berkehendak lain. Mereka memilih duduk di mobil, menyadarkan badannya pada jok sambil menunggu bantuan datang.

Di tengah keputusasaan, dan menunjukan 8.45 am. Sedikitnya menyisakan waktu 15 menit lagi. Seakan tak ada harapan, Harry hanya terduduk pasrah, impiannya masuk pesantren mungkin akan sirna. Wajahnya ditekuk penuh kekecewaan. James dan Lily berkali-kali meminta maaf, dan Harry hanya mengiyakan tanpa mau menjawab.

Dengan tanpa diduga, James melihat benda hitam di langit semakin mendekat ke arah mereka. Kemudian Lily tampak ketakutam benda itu akan  mengenai mobil mereka. Serentak mereka memejamkan mata dengan tangan seolah-seolah menahan menutupi wajahnya.

Apa  yang mereka lihat tadi telah berada tepat di samping kanan mobil mereka. Sebuah motor antik jaman dulu dengan pengendaranya berbadan besar dan jenggot serta rambut yang lebat. Membuat orang yang melihatnya akan ketakutan. Tak lupa suara motornya yang bising membuat Harry terbangun dari posisi tidurannya. James dan Lily bergidik ngeri dengan pemandangan di samping mereka.

Kemudian, orang itu turun dam mengetuk jendela dimana Harry berada. Harry membukakan jendelanya tanpa rasa takut.

“Ouw Harry, waktu sebentar lagi habis. Aku sudah menunggumu dan kau tak kunjung datang” ucapnya tiba-tiba yang membuat seisi mobil kebingungan.

Excuse me, who are you?” Tanya Harry penuh keheranan.

“Oh aku lupa memperkenalkan diri. Aku Hagrid penjaga pintu Pondok Pesantren Hogwarts. Albus Dumbledore memerintahkanku untuk menjemputmu” jelasnya yang membuat mereka semakin bertanya-tanya. Sama sekali Harry tak menjawab. Begitu juga kedua orangtuanya

Hagrid berbalik badan, namum kembali lagi “Kau memilih pergi, atau tetap tinggal disini?” Tanya nya. Lalu menaiki motornya.

***

Akhirnya, Harry sudah sampai di London, tepatnya di stasiun kereta. Hagrid hanya mengantarnya sampai di sini. Harry mencari-cari peron 9 3/4 dengan barang-barang yang ia bawa di trolinya. Waktu yang tersisa tinggal 5 menit lagi. Harry harus lebih cepat menemukannya. Ia sedikit berlari. Kemudian, ia melihat orang-orang menerobos dinding diantara peron 9 dan 10. Dengan sedikit ragu, Harry melakukan hal yang sama. Dan ‘Zing!’ sekarang ia berada di dimensi yang ia sendiri tak tahu dimana. Akhirnya, impiannya tercapai. Bisa mencari ilmu walaupun ke negeri yang tak pernah bisa dibayangkan sebelumnya.

Sampai jumpa Ibu, Ayah di tahun depan sebelum lebaran.