Esai

Buku dan Ke-Baku-annya

Dafa Alhafidz
Latest posts by Dafa Alhafidz (see all)
Ilustrasi: Nyarita.com

Dunia selalu dipenuhi dengan banyak peristiwa, baik peperangan, krisis sosial, kisah cinta, juga perjuangan para pemuka agama. Peristiwa-peristiwa tersebut juga tidak lepas dari kosmologi alam semesta salah satunya bumi. Bumi bagian dari dunia, yang mana menurut para pemuka agama dan sudah masyhur kita dengar bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan manusia mencari bekal untuk kehidupan di akhirat. Bahkan lebih dari itu dunia merupakan tempat dimana terjadinya pelaku sejarah yang sudah terlewatkan maupun akan terjadi. Tentunya, catatan-catatan itu tidak lepas dari yang namanya buku dan pengkodifikasian untuk mengabadikan dan menjadi bahan pengetahuan maupun evolusi kedepannya.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia buku merupakan lembaran kertas yang berjilid, berisi tulisan atau kosong. Jadi setiap lembaran kertas baik yang kosong maupun tertulis aksara itu merupakan buku. Pertanyannya, siapa penemu buku? Dan bagaimana awal mula terjadinya buku? Mari kita bahas dan diskusikan bersama.

Edi S. Mulyanta (2012) menyatakan bahwa buku ditemukan masih berhubungan dengan penulisan Al-Kitab, pada jaman dahulu sekitar abad awal-awal masehi, dimana manusia sadar akan pentingnya tulisan untuk merekam kejadian ataupun pencatatan surat-surat di dalam kitab suci kaum Nasrani. Perkembangan itu kian merebak seiring golongan. Begitupun Alhafiz Kurniawan (2021) menyatakan bahwa kodifikasi Al-qur’an merupakan usulan sayyidina Umar bin Khattab R.A yang keresahan dan khawatir musnahnya Al-qur’an karena lebih banyak tersimpan dalam hafalan dan ingatan para sahabat yang gugur di pertempuran Yamamah. Dan terlepas berbagai kejadian di muka bumi ini tentunya memiliki kaitan dengan sebuah buku.

Dengan berbagai penyempurnaan buku yang sekarang, rupanya buku mengalami sejarah yang sangat mengguncangkan hati para pecinta buku. Banyak pendapat mengenai masalah mengenai elemen buku tapi saya merujuk kepada temuan Franz Magnis Suseno. Coba kita lihat, bangsa-bangsa Sumeria, Babilonia, Asur, dan bangsa lainnya di Timur tengah, dahulu buku  itu masih berbentuk papan yang dibuat dari tanah liat, dengan huruf berbentuk baji. Karena bahan dasarnya papan, tentunya buku itu sangatlah berat. Kemudian Cina melakukan pemikiran formula kemanusiaan terhadap buku. Tentunya, bahan buku yang semula dari tanah liat kemudian disulap menjadi kertas yang di atasnya serba mudah, baik dicetak hingga ketahanan lamanya.

Akan tetapi, sebelum Cina menemukan kertas sebagai bahan dasar, bangsa-bangsa lain menggunakan daun lontar yang diikat, dan itu dilakukan bangsa India. Di mesir, mereka menggunakan papyrus yang terbuat dari serat pardu yang selanjutnya digulung. Di Asia kecil tepatnya di kota Pergamon, atau sekarang disebut dengan Turki, bahan baku buku terbuat dari kulit kambing, domba, atau sapi muda. Dengan kemudahan sekarang tentunya, buku dapat dinikmati dengan ringan dan praktis.

Tidak lupa juga kita berterima kasih kepada Johannes von Gutenberg yang telah menemukan mesin cetak sehingga memudahkan buku tersebar dengan proses yang sangat cepat. Dahulu, untuk menyebarkan teks-teks dan merawatnya harus dihafal ataupun didiktekan dan itu membutuhkan kekuatan pikiran yang sangat kuat. Akan tetapi, setelah Johanne von Gutenberg menemukan mesin cetak tentunya penyebaran buku sangat mudah. Penemuan mesin cetak Gutenberg  tidak lepas dari penemuan kertas yang  ditemukan pertama kali oleh Ts’ai Lun. Hasil penemuan mereka kemudian menghasilkan perkawinan yang sangat ajaib dan menakjubkan. Kertas yang semula menjadi bahan dasar penulisan buku kemudian dipermudah menyebar lewat mesin cetak sehingga lahirlah buku-buku yang sekarang kita baca dan minati.

Setelah kita refleksikan akan buku, betapa panjang dan menakjubkannya proses terjadinya buku. Yang sekarang tentunya abadi dan menjadi referensi pengetahuan untuk melanjutkan kehidupan. Kalau menurut kata-kata mutiara yang masyhur kita dengar Buku adalah Jendela Dunia di mana kita bisa melihat isi dunia tanpa melakukan perjalanan, bahkan hanya cukup membaca sebuah halaman. Peradaban buku, harus tetap abadi kita abadikan. Kita harus bisa merasakan bagaimana tulisan-tulisan yang menjadi referensi kehidupan amat sangat mengalami banyak perjuangan. Para ulama, tokoh dunia, mereka mengabadikan pengetahuannya dengan buku karena mereka sadar  dan menyadari melalui media buku, pesan akan lebih abadi. Maka dari itu, cintailah buku dan tentunya kita juga pasti akan menemukan cintanya buku kepada kita.