Esai,  Headline,  Sosial Budaya

Betapa Historis dan Filosofisnya Agustusan

Fauzan Ibnu Hasby
Ilustrasi. Nyarita.com

Setiap Negara yang diakui sebagai sebuah Negara resmi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mempunyai peringatan hari kemerdekaan masing-masing. Peringatan hari kemerdekaan itu tentu selalu diramaikan dengan sebuah perayaan yang dirayakan oleh seluruh orang di Negara itu. Perayaan yang dilakukan oleh setiap Negara pun berbeda-beda. Bila di Francis, mereka merayakan kemerdekaan dengan pawai militer tahunan Bastille. Menonton kembang api dan membuat barbekyu bersama keluarga, dilakukan oleh rakyat Amerika untuk merayakan kemerdekaan. Hampir sama dengan Indonesia, India melakukan parade dan upacara bendera untuk merayakan hari kemerdekaannya. Serta Korea Utara yang membungkuk dan meletakkan bunga di depan patung dan foto Kim Il Sung dan Kim Jong Il pada peringatan hari kemerdekaan setiap tahunnya.
Sebagai salah satu Negara yang sudah lama merdeka juga, Indonesia pun sama mempunyai hari kemerdekaannya sendiri, yakni pada tanggal 17 Agustus 1945. Sudah menjadi tradisi wajib pada peringatan hari kemerdekaan, rakyat Indonesia pasti akan merayakan kemerdekaan dengan sebuah perayaan yang meriah setiap tahunnya. Selain upacara bendera, dan parade atau karnaval, Indonesia punya ciri khas lain dalam merayakan kemerdekaan setiap tahunnya, yakni dengan adanya banyak lomba yang dihelat.

Pada acara lomba itu, tak hanya anak kecil saja yang mengikuti dan meramaikan perlombaan, namun nyaris semua umur ikut memeriahkan. Setelah begitu lama merayakan kemerdekaan dengan adanya lomba, beberapa orang di Indonesia sendiri masih ada yang tak tahu sejarah dan makna-makna dari lomba tersebut.

Sejarah atau asal mula adanya lomba-lomba yang diadakan dalam perayaan kemerdekaan atau yang biasa disapa “Agustusan” ini sebenarnya tak diketahui pasti, siapa tokoh pelopornya yang membawa tradisi tersebut. Namun, yang pasti, menurut laman Kompas Edukasi, lomba-lomba tersebut mulai marak dilakukan pada sekitar tahun 1950-an.

Menurut laman Kompas Edukasi juga, peperangan untuk mempertahan kemerdekaan kala itu mulai surut. Ibu kota yang sempat dipindahkan ke Yogyakarta kembali lagi ke Jakarta. Masyarakat pun ingin merayakan kemerdekaan yang sangat sulit diraih dan dipertahankan itu. Maka beragam lomba pun dilakukan secara spontan saat itu. Lomba-lomba yang begitu lazim dilakukan saat Agustusan adalah balap karung, panjat pinang, tarik tambang, dan makan kerupuk.

Namun dalam pendapat lain yang dikemukakan sejarawan, J J Rizal mengungkapkan bahwa perlombaan itu merupakan comotan dari masa penjajahan Belanda dan terutama pada masa penjajahan Jepang. Sebelum kemudian, lomba-lomba Agustusan itu ditambah dengan aneka ragam lomba yang baru.

Menurut Rizal juga, panjat pinang itu sudah terlihat pada gambar-gambar masa kolonial Belanda. Namun, saat masa kolonial itu, lomba-lomba dilakukan untuk merayakan ulang tahun Djawa Baroe – tepat saat Jepang datang pada Maret 1942. Selain panjat pinang, lomba-lomba yang dihelat saat masa kolonial dulu adalah tarik beban berat dan lomba kuda-kuda.

Jadi pada awalnya lomba-lomba itu dihelat untuk menghormati dan merayakan Ratu Belanda atau untuk menyambut kedatangan Jepang, tambah Rizal dalam penjelasannya mengenai sejarah lomba-lomba Agustusan.

Seiring berjalannya waktu, lomba-lomba yang awal mulanya untuk Belanda dan Jepang akhirnya dipakai untuk merayakan peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Hingga dalam sejarah dikatakan juga bahwa Ir. Soekarno pun sangat menyukai adanya perayaan dengan lomba-lomba tersebut. Dengan begitu, akhirnya seluruh rakyat Indonesia selalu merayakan kemerdekaan dengan mengadakan lomba-lomba Agustusan sampai sekarang. Sayangnya, pada tahun ini Indonesia sedang melakukan PPKM dan masih terus berjuang melawan wabah. Tapi beberapa daerah yang masuk pada daerah level 2 dan 3 masih bisa merayakan kemerdekaan dengan mengadakan lomba-lomba, dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Tak hanya sejarahnya, lomba-lomba yang terlihat sepele itu ternyata mempunyai filosofinya masing-masing, terkhusus lomba-lomba seperti balap karung, makan kerupuk, panjat pinang, dan tarik tambang, sebagai lomba-lomba yang lazim dan nyaris wajib diadakan.

Menurut sebuah keterangan dari para ahli sejarah, lomba balap karung ini untuk mengingatkan kita pada masa penjajahan Jepang. Dimana saat itu, betapa penduduk Indonesia begitu miskin. Sampai-sampai tak mampu membeli kebutuhan sandang. Hingga akhirnya, karung goni inilah yang dijadikan gantinya.

Makan kerupuk pun sama mempunyai sisi filosofisnya tersendiri. Dengan melihat cara lombanya, makan kerupuk ini menggambarkan kesulitan pangan pada masa penjajahan dulu. Maka dengan diikat tangan peserta lomba makan kerupuk ini, menjadi tanda untuk mengingatkan hal itu.
Begitupun tarik tambang, lomba yang mengandalkan kekuatan bersama serta kekompakan ini menjadi simbol gotong royong, kebersamaan, persatuan, serta solidaritas.

Berbeda dengan tiga lomba sebelumnya, panjat pinang sebenarnya lebih memiliki sisi historis dibanding sisi filosofisnya. Saat masa penjajahan dulu, panjat pinang digelar sebagai hiburan saat perayaan-perayaan penting orang Belanda di bumi Indonesia. Seperti pernikahan, pesta ulang tahun, dan perayaan-perayaan penting yang lainnya.

Melihat sisi filosofis dari setiap lomba dan sejarahnya. Maka, kita sebagai rakyat Indonesia yang begitu mencintai negeri ini. Sudah sepatutnya melestarikan terus menerus perhelatan lomba-lomba tersebut. Warisan dari penjajahn itu sangat berguna, tak hanya sebagai hiburan, tetapi juga pelajaran bahwa bagaimana pahit dan getirnya nasib bangsa kita dulu.