Agama,  Esai

Berkaca Pada Nafsu

Parid Maulana
Latest posts by Parid Maulana (see all)
Ilustrasi: Nyarita.com

“Manusia itu terbagi ke dalam dua bagian/sifat. Pertama, manusia khusus yakni manusia yang diberi keutamaan atas ilmu. Kedua, manusia yang umum yakni manusia yang diberi keutamaan dari segi harta.”

Dr. Ahmad Izzan, M.Ag

 

Pepatah Arab kuno mengatakan bahwa, berharganya seorang manusia itu dengan ilmunya bukan dengan hartanya. Ya, ilmu bisa mengangkat derajat atau kedudukan seseorang, dalam agama Islam sendiri orang yang berilmu atau mempunyai wawasan lebih dihargai melebihi orang yang bergelimang dengan harta dan Al-Quran sendiri sebagai pedoman umat Islam telah mengutarakan hal tersebut. Sialnya, di kalangan masyarakat umum masih menganggap orang yang mempunyai harta berlimpah-lah yang lebih mempunyai kedudukan dan hal ini tentunya tidak berlaku di beberapa daerah, misalnya daerah yang banyak pesantren, daerah yang kuat akan pemahaman agamanya. Namun, sekali lagi Penulis katakan bahwa, kebanyakan masyarakat beranggapan bahwa yang mempunyai harta-lah yang paling berkedudukan dimata mereka.

Masyarakat lebih bangga bila anaknya bekerja di suatu perusahaan besar atau menjadi PNS ketimbang anaknya tahu ilmu ini dan itu. Sehingga tidak jarang dengan kurangnya pemahan yang berimbas pada kesadaran berbuat jujur, sopan, ramah, dan tamah-pun acapkali sulit ditemukan dari para pekerja ini. Mind set yang dibangun masyarakat pedesaan terutama lebih mendahulukan kerja dari pada sekolah, masuk pesantren atau lembaga pendidikan yang notabenenya mengajarkan kesadaran menjadi manusia yang harus memanusiakan manusia lainnya tidak didahulukan.

Tak bisa dinafikan juga bahwa, pada dasarnya manusia mempunyai keinginan untuk mendapatkan sesuatu atau kepuasan untuk dirinya. Jika kepuasan yang satu tidak didapatkan maka manusia tersebut akan mencari kepuasan yang lain. Teori tersebut akan senantiasa ada pada diri manusia karena di dalam diri manusia terdapat nafsu. Tapi beda ketika kepuasan tersebut dialihkan dengan objek ilmu, maka yang terjadi adalah kebaikan bagi manusia dan lingkungannya. Tentunya untuk mengalihkan dengan objek ilmu tersebut tidak semudah dan segampang membalikan telapak tangan, proses yang panjang nan melelahkan perlu ditempuh oleh si pencari kepuasan tersebut. Melihat proses yang panjang ini rata-rata orang lebih memilih jalan pintas, untuk mengalihkan kepuasan ilmu tadi ke arah kepuasan materi.

Dalam hal itu untuk mencari kepuasan yang hakiki sejatinya kita harus kembali belajar dan seyogyanya kita memperhatikan kembali syarat-syarat dalam menuntut ilmu, supaya ilmu yang kita dapat bisa menjembatani orang lain untuk memetik buahnya ilmu. Sederhananya buah ilmu bisa kita artikan sebagai kesuksesan, kebahagian, lebih jauhnya lagi mendapatkan Ridha-Nya.

Adalah Syaikh Burhan Al-Islam Al-Zarnuji (w 602H/ 1223M). Seorang penulis dan Mushonnif (pengarang) beberapa kitab yang dijadikan panduan dan pegangan berbagai kalangan. Salah satu yang terkenal adalah kitab Ta’lim al-Muta’alim, yang menjelaskan metode belajar dan etika-etika mencari ilmu. Beliau menjelaskan dengan gamblang syarat-syarat seorang murid, siswa, mahasiswa ataupun santri dalam menuntut ilmu dalam sya’irnya yang fenomenal.  Syair syarat-syarat mencari ilmu. Sya’ir tersebut diambil Al-Zarnuji dari sahabat Ali bin Abi Thalib. Syair ini muncul pada saat Islam sedang dalam masa perkembangannya, dimana orang Islam sedang dalam kondisi ingin memaknai Islam agar menjadi agama yang diakui oleh masyarakat luas di seluruh penjuru dunia.

1. Cerdas

Cerdas dalam kitab Ta’lim al-Muta’alim Thariqat Al-Ta’alum yang berati kecepatan dalam berpikir. Hal ini adalah kecerdasan akal (intelligence). Cerdas bisa diartikan sebagai sempurna dalam perkembangan akal dan budi (untuk berfikir, mengerti). Jadi cerdas bukan hanya menguasai banyak informasi tetapi juga mampu mengolah informasi menjadi sesuatu hal yang baru atau teori baru.

2. Rasa ingin tahu yang tinggi

3. Sabar

4. Adanya biaya

5. Adanya mentor (petunjuk dari guru) Yang berarti arahan guru atas sisi yang benar. Arahan guru disini adalah orang yang bertanggung jawab terhadap upaya perkembangan jasmani dan rohani peserta didik agar mencapai tingkat kedewasaan, sehingga ia mampu menunaikan tugas-tugas kemanusiaannya baik khalifah maupun ‘abid (Hamba). Oleh karena itu guru mempunyai peran yang sangat penting bagi seorang murid. Guru bertanggung jawab tidak sebatas dinding sekolah, tetapi juga di luar sekolah.

6. Lamanya waktu

Hal ini dikarenakan suatu ilmu mempunyai suatu rangkaian yang sangat erat dengan ilmu yang lain. Dan ilmu itu tidak akan pernah habis apabila dipelajari terus menerus. Contoh yang berhubungan dengan Al-Qur’an yaitu bahasa arab, sedangkan orang yang ingin menguasai bahasa arab harus mempelajari ilmu nahwu, sharaf, balaghah, dan lain-lain. Pun demikian dengan bila kita ingin mempelajari disiplin ilmu yang berbeda semisal bahasa, maka hal yang diperlukan untuk memahami kajian bahasa ini adalah memperlajari ilmu gramatika dan sebagainya.

Dari uraian syarat-syarat yang telah dikemukakan di atas, dalam sekian spektrum dan pergolakannya, biaya masih menjadi masalah paling wahid disusul dengan lamanya waktu belajar. Melihat fenomena dekade 2000-an, memang jumlah para pelajar baik dari tingkat dasar hingga pasca sarjana memang selalu mengalami peningkatan, namun lagi-lagi masih ada saja yang beranggapan bahwa pendidikan itu hanya diperuntukan bagi mereka yang mampu, dan alapagi untuk kelas Mahasiswa yang SPP/UKT-nya itu mengerikan.

Bila Penulis cermati dari fenomena banyaknya orang-orang yang bersekolah pada abad ke-21 ini, anggapan pendidikan hanya untuk kaum mampu saja, Penulis rasa hal ini ada benar dan salahnya juga, mengapa demikian? Benarnya bahwa memang banyak sekali kasus yang terjadi, semisal anak yang pintar di kelas sewaktu SMP atau SMA tapi mereka banyak yang tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi dengan alasan biayanya tidak ada. Salahnya adalah Penulis sadari dan insyafi bahwasanya, teman sejawat, sekobong (satu asrama di pondok) dan sepermainan ketika kecil, yang ekonominya pas-pas-an tapi banyak dari mereka yang bisa melanjutkan. Ketika ditanya mereka kenapa bisa sampai SMA bahkan kuliah? Dari beasiswa, jawaban itu yang sering Penulis dengar dari orang-orang tadi.

Di zaman serba cepat dan canggih dengan teknologi ini yang memungkinkan informasi bisa dijangkau dengan satu kali sentuhan tangan, seharusnya banyak dari mereka yang memanfaatkan momen ini untuk terus meningkatkan kualitas berpikir dan bertindaknya. Pun demikian dengan memenuhi kepuasan “nafsu” kita dengan tidak hanya terpaku pada materi. Pendidikan sejatinya untuk semua rakyat Indonesia, artinya tidak ada kaum mampu dan tidak mampu, selagi mau dan siap mengusahakan maka, tidak ada kata tidak mungkin untuk merubah pola pikir dan sikap kita supaya lebih baik lagi dengan pendidikan.