Caritaan,  Headline,  Motivasi

Belajar Nyeruput Kopi Yang Baik dan Benar

Parid Maulana
Latest posts by Parid Maulana (see all)
Ilustrasi: Nyarita.com

Anda dan Penulis tentu sangat familiar dengan kopi. Ya, kopi merupakan minuman yang rasanya khas dan aromanya bisa menyebar keseluruh kelas ini sangat digemari oleh banyak orang, terlebih oleh orang indonesia tak terkecuali oleh mereka yang suka nongkrong di mall, caffe dan juga warung sebelah kelas.

Obrolan yang paling serius hingga paling remeh dan sepele tersaji diantara gelas dan korek. Dari kopi pula kita bisa membedakan mana mahasisiwa tua dan mahasiswa yang baru, seperti yang telah Penulis singgung sebelumnya, para tetua biasanya lebih menikmati kopi yang kental serta hitam pekat, berbeda dengan para pemula yang sukanya kopi manis alias plus susu dan cenderung menyajikannya dengan air se-ember.

Dalam obrolan yang pasuliwer (segala dibahas) ini Penulis tidak akan membahas begitu banyak tentang minuman yang satu ini.  Kopi sejatinya adalah cerminan hidup. Artinya semanis dan senikmat apapun kopi, pasti ada saja sisi pahitya, dengan kata lain hidup ini tidak sedatar, selurus dan sebegitu saja yang kita bayangkan, sisi kelam dan pahit dari hidup selalu menghiasi hidup ini. Kepahitan itu sejatinya rasa manis yang sudah berakhir.

Sisi gelap selalu berdampingan dengan sisi terang, pun begitu tidak akan ada hitam bila tidak putih mendahuluinya. Manusia dilahirkan dari ketidak berdayaan, ketidak tahuan dan keterasingan akan alam baru yang dinamakan dunia. Jika hidup ini memang dirasa selalu saja salah, kecewa, dosa dan sejenisnya kemudian kita terpuruk dalam nestapa dan nostalgia tak berkepanjangan, sudah seharusnya dan tentunya kita kembali mengingat jati diri kita yang baru lahir. Kelahiran kita bersih dari noda, dosa dan prasangka. Maka, kita kembalikan kesucian itu lalu kita rebut kembali kebahagiaan yang tak pernah ada penyesalan layaknya seorang bayi.

Lantas membumi pertanyaan bagaimana membuat kita kembali pada kesucian? Dengan belajar dan terus belajar. Pekerjaan tidak akan berjalan dengan mulus bila hanya mengandalkan tenaga tanpa berpikir pun demikian sebaliknya. Nah, untuk mencapai pada fase berpikir manusia terlebih dahulu disuguhi belajar membaca. Ya, membaca.

Nabi Muhammad Saw, manusia nomor wahid paling berpengaruh di Mayapada ini menurut penuturan Michael H. Hart dalam bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History, sebelum beliau menyampaikan risalah dan juga mempraktikan ahklaknya yang mulia, mula-mula ia diberi pelajaran paling dasar yakni membaca. Bunyi firman Allah SWT dalam kitab suci-Nya “Bacalah”, mengindikasikan kita bahwa sebelum bertindak bacalah! Setelah itu pahamilah kemudian baru bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kabar buruknya manusia milenial ini cenderung dan doyan bertindak tanpa membaca. Akhirnya kerusakan timbul dimana-mana dan sialnya masyarakat intelektual-pun tertipu dengan wejangan “Ustadz-Ustadz”, intelektual asongan yang tak bertanggung jawab.

Sebagai mahasiswa yang standarisasi pembelajarannya di atas para siswa, sudah seharusnya membaca ini dijadikan pelajaran paling awal dan wajib ‘ain. Membaca tidak harus dari buku saja, internet sebagai sumber informasi kekinian juga bisa dijadikan sandaran membaca, hanya saja membaca di gadget berbasis internet perlu adanya filterisasi terhadap bacaan-bacaan yang hendak dibaca, jangan sampai kelas yang katanya mahasiswa masih terbawa arus hoax ketimbang yang haq.

Pernahkan Anda sadari ketika kita mulai masuk institusi bernama sekolah, kita terlebih dahulu diajarkan untuk mendengar, membaca dan melihat huruf-huruf alfabet ketimbang menghitung satu tambah satu? Dan kenapa hal itu mesti dan selalu dilakukan, baik oleh orang tua kita ataupun guru kita, apakah tidak ada cara lain lagi?

Mula-mula manusia dilahirkan kedunia ini tidak tahu menahu atas dirinya pun demikian dengan lingkungannya, kemudian tahap selanjutnya ia diperkenalkan dengan cara mendengar. Manusia tidak akan tahu objek yang dilihatnya sebelum ia diberi tahu oleh yang sudah tahu dan Maha tahu, si sudah tahu ini kemudian membacakan objek tersebut dan menyuruhnya untuk melihat objek tersebut dan disuruhnya lagi untuk mengulang perkataan tersebut. Setelah mendengar dan terlihat objek tersebut barulah ia mengetahui objek tadi. Inilah prinsip dasar belajar dan membaca. Dengan demikian ia akan tahu secara haq tingkat pertama, dan untuk mencapai tahu secara haq yang sehaq-haqnya ia kemudian dianjurkan untuk menganalisa dengan pikiran, akal dan hatinya. Bila sesuai dengan akal dan hati maka ia merupakan haqul yaqin (kebenaran yang sejati) pun sebaliknya bila ia tidak sesuai maka ia disebut dengan kebohongan yang nyata.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kebenaran sejatinya bisa kita ketahui melalui proses yang cukup panjang perlu adanya informasi, data kemudian analisa yang nantinya menghasilkan sebuah “karya”. Artinya jika hendak belajar “ngopi” yang baik dan benar perlunya sinkronisasi antara akal dan hati.

Kabar buruknya lagi manusia yang modern dan milenial ini, terkadang mengabaikan pendengarannya dan lebih tertipu oleh pesona retorika, argumentasi penuh gelora dan sandiwara yang tak kunjung reda. Mereka generasi super nova ini melihat sesuatu hanya dari tulisan dan tidak memferivikasi kebenaran dan apalagi menganalisa, imbasnya hoax dan asongan agama berbalut politik tubuh subur nan menjalar di negeri pertiwi.

Belajar Nyeruput Kopi Yang Baik dan Benar
Anda dan Penulis tentu sangat familiar dengan kopi. Ya, kopi merupakan minuman yang rasanya yang khas dan aromanya bisa menyebar keseluruh kelas ini sangat digemari oleh banyak orang, terlebih oleh orang indonesia tak terkecuali oleh mereka yang suka nongkrong di mall, caffe dan juga warung sebelah kelas.
Obrolan yang paling serius hingga paling remeh dan sepele tersaji diantara gelas dan korek. Dari kopi pula kita bisa membedakan mana mahasisiwa tua dan mahasiswa yang baru, seperti yang telah Penulis singgung sebelumnya, para tetua biasanya lebih menikmati kopi yang kenta serta hitam pekat berbeda dengan para pemula yang sukanya kopi manis alias plus susu dan cenderung menyajikannya dengan air se-ember.
Dalam obrolan yang pasuliwer (segala dibahas) ini Penulis tidak akan membahas begitu banyak tentang minuman yang satu ini. Kopi sejatinya adalah cerminan hidup. Artinya semanis dan senikmat apapun kopi, pasti ada saja sisi pahitya, dengan kata lain hidup ini tidak sedatar, selurus dan sebegitu saja yang kita bayangkan, sisi kelam dan pahit dari hidup selalu menghiasi hidup ini. Kepahitan itu sejatinya rasa manis yang sudah berakhir.
Sisi gelap selalu berdampingan dengan sisi terang, pun begitu tidak akan ada hitam bila tidak putih mendahuluinya. Manusia dilhirkan dari ketidak berdayaan, ketidak tahuan dan keterasingan akan alam baru yang dinamakan dunia. Jika hidup ini memang dirasa selalu saja salah, kecewa, dosa dan sejenisnya kemudian kita terpuruk dalam nestapa dan nostalgia tak berkepanjangan, sudah seharusnya dan tentunya kita kembali mengingat jati diri kita yang baru lahir. Kelahiran kita bersih dari noda, dosa dan prasangka. Maka, kita kembalikan kesucian itu lalu kita rebut kembali kebahagiaan yang tak pernah ada penyesalan layaknya seorang bayi.
Lantas membumi pertanyaan bagaimana membuat kita kembali pada kesucian? Dengan belajar dan terus belajar. Pekerjaan tidak akan berjalan dengan mulus bila hanya mengandalkan tenaga tanpa berpikir pun demikian sebaliknya. Nah, untuk mencapai pada fase berpikir manusia terlebih dahulu disuguhi belajar membaca. Ya, membaca.
Nabi Muhammad Saw, manusia nomor wahid paling berpengaruh di mayapada ini menurut penuturan Michael H. Hart dalam bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History, sebelum beliau menyampaikan risalah dan juga mempraktikan ahklaknya yang mulia, mula-mula ia diberi pelajaran paling dasar yakni membaca. Bunyi firman Allah SWT dalam kitab suci-Nya “Bacalah”, mengindikasikan kita bahwa sebelum bertindak bacalah! Setelah itu pahamilah kemudian baru bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kabar buruknya manusia milenial ini cenderung dan doyan bertindak tanpa membaca. Akhirnya kerusakan timbul dimana-mana dan sialnya masyarakat intelektual-pun tetipu dengan wejangan “Ustadz-Ustadz”, intelektual asongan yang tak bertanggung jawab.
Sebagai mahasiswa yang standarisasi pembelajarannya di atas para siswa, sudah seharusnya membaca ini dijadikan pelajaran paling awal dan wajib ‘ain. Membaca tidak harus dari buku saja, internet sebagai sumber informasi kekinian juga bisa dijadikan sandaran membaca, hanya saja membaca di gadget berbasis internet perlu adanya filterisasi terhadap bacaan-bacaan yang hendak dibaca, jangan sampai kelas yang katanya mahasiswa masih terbawa arus hoax ketimbang yang haq.
Pernahkan Anda sadari ketika kita mulai masuk institusi bernama sekolah, kita terlebih dahulu diajarkan untuk mendengar, membaca dan melihat huruf-huruf alfabet ketimbang menghitung satu tambah satu? Dan kenapa hal itu mesti dan selalu dilakukan, baik oleh orang tua kita ataupun guru kita, apakah tidak ada cara lain lagi?
Mula-mula manusia dilahirkan kedunia ini tidak tahu menahu atas dirinya pun demikian dengan lingkungannya, kemudian tahap selanjutnya ia diperkenalkan dengan cara mendengar. Manusia tidak akan tahu objek yang dilihatnya sebelum ia diberi tahu oleh yang sudah tahu dan Maha tahu, si sudah tahu ini kemudian membacakan objek tersebut dan menyuruhnya untuk melihat objek tersebut dan disuruhnya lagi untuk mengulang perkataan tersebut. Setelah mendengar dan terlihat objek tersebut barulah ia mengetahui objek tadi. Inilah prinsip dasar belajar dan membaca. Dengan demikian ia akan tahu secara haq tingkat pertama, dan untuk mencapai tahu secara haq yang sehaq-haqnya ia kemudian dianjurkan untuk menganalisa dengan pikiran, akal dan hatinya. Bila sesuai dengan akal dan hati maka ia merupakan haqul yaqin (kebenaran yang sejati) pun sebaliknya bila ia tidak sesuai maka ia disebut dengan kebohongan yang nyata.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kebenaran sejatinya bisa kita ketahui melalui proses yang cukup panjang perlu adanya informasi, data kemudian analisa yang nantinya menghasilkan sebuah “karya”. Artinya jika hendak belajar “ngopi” yang baik dan benar perlunya sinkronisasi antara akal dan hati.
Kabar buruknya lagi manusia yang modern dan milenial ini, terkadang mengabaikan pendengarannya dan lebih tertipu oleh pesona retorika, argumentasi penuh gelora dan sandiwara yang tak kunjung reda. Mereka generasi super nova ini melihat sesuatu hanya dari tulisan dan tidak memferivikasi kebenaran dan apalagi menganalisa, imbasnya hoax dan asongan agama berbalut politik tubuh subur nan menjalar di negeri pertiwi.